100 Penyu Sisik Dilepas: Habitat Hidupnya Semakin Terdesak

28 April


catatan asti:
program lepasliar setelah beberapa bulan/hari ditangkarkan biasa dinamakan "headstarting".
konsep "headstarting" sebenarnya simpel. Telur dijaga dan tukik (penyu yang baru menetas) dibesarkan sampai mereka cukup kuat menghadapi ancaman predator.
tukik yang baru menetas terancam oleh kepiting, elang, ikan yang lebih besar. sementara tukik yang sudah agak besar relatif lebih aman karena ukuran tubuhnya yang lebih besar.
ide yang diusung oleh "headstarting" adalah: meningkatnya ukuran tubuh penyu juga meningkatkan peluang hidup penyu
sementara ide-nya se-simpel itu,, pelaksanaanya ternyata ga mudah.
banyak ahli mempertanyakan: berapa lama sebaiknya tukik 'ditangkarkan'?, bagaimana memastikan bahwa tukik mendapatkan asupan gizi yang layak untuk pertumbuhan karapasnya? apakah benar peluang hidup penyu meningkat dengan program "headstarting" itu?


meskipun program ini terlihat "seksi" dari sudut pandang politis dan mengundang perhatian publik (bayangkan,, kamu bisa dateng ke lokasi penangkaran dan bisa berfoto dan bahkan menyentuh tukik ataupun penyu yang sudah agak besar)
tetapi..... kenyataannya :
  1. untuk membuat tempat penangkaran tukik diperlukan biaya yang banyak (bangunan, sistem pompa air laut, sistem pengatur temperatur listrik, dan yang paling penting: pakan)
  2. biasanya tukik yang sudah ditangkarkan akan menjadi manja, dan ketika mereka dilepaskan ke laut,, mereka nda mampu cari makan sendiri
  3. yang lebih parah,, mereka akan kehilangan kemampuan alami mereka dalam merekam memori pantai tempat mereka menetas (karena begitu menetas, mereka langsung masuk ke tempat penangkaran). padahal, kemampuan tersebut akan mereka gunakan dalam menentukan lokasi mereka bertelur (kebayang nda kalo mereka kemudian bingung mau bertelur dimana?)
terus,, gimana keberlanjutan hidup mereka? kalo mereka ngga mampu cari makan sendiri,, kira kira mereka mampu ngga ya sampe ke tingkat reproduksi?

benarkah program "headstarting" dan penangkaran penyu memperbesar peluang hidup si penyu?
(bocoran informasi: sejak tahun 2001 para ahli penyu dunia sudah meragukan keberhasilan "headstarting". silahkan update informasi kamu di www.seaturtle.org)


Padang, Kompas-Sejumlah 100 ekor penyu sisik (Eretmochelys imbricata) dilepasliarkan ke laut dari Pantai Jambak, Kelurahan Pasie Nan Tigo, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Selasa (22/4). Penyu sisik ini merupakan satu dari tiga jenis penyu terancam punah yang ditemukan di pesisir laut Sumatera Barat. Penyu betina yang dilepasliarkan itu merupakan hasil pembiakan dari Laboratorium Struktur dan Perkembangan Hewan (SPH) Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Andalas. Telur penyu ditetaskan bulan Agustus lalu.

Kurniadi Ilham, peneliti penyu sekaligus Kepala Laboratorium SPH, mengatakan, penyu siap dilepasliarkan setelah berusia minimal tiga bulan, atau setelah rumah penyu atau karapas mengeras. ”Selama habitat penyu tidak diganggu atau tidak ada pemangsa di pantai, penyu yang dilepasliarkan bisa bertahan hidup,” kata Kurniadi. Penyu yang dilepasliarkan itu diharapkan bisa berkembang biak dan menambah jumlah populasi penyu di alam.

Peneliti perikanan dari Jurusan Biologi Universitas Andalas, Syaifullah, mengatakan, masa perkembangbiakan penyu sisik enam sampai 30 tahun. Hanya saja, dari 100-120 butir telur yang dikeluarkan sekali bertelur, hanya dua sampai tiga ekor penyu baru yang akan bertahan hidup. Dari sejumlah penelitian, penyu akan kembali ke tempat awal mereka dilepaskan, kendati mereka punya daerah jelajah sampai 3.000 kilometer. Hanya saja, pantai tempat penyu dilepasliarkan itu harus tetap asli dan tidak tersentuh aktivitas manusia.

Mata rantai
Dekan Fakultas MIPA Universitas Andalas, Ardinis Arbain, mengatakan, penyu menjadi mata rantai makanan yang penting dalam habitat laut. Karena itu, keberadaan penyu dibutuhkan di laut. Selain itu, penyu merupakan satwa purba yang masih bertahan hingga kini.

”Kalau disepadankan, usia penyu ini sama dengan usia dinosaurus. Daya evolusi penyu yang besar membuat hewan ini masih bisa kita temui hingga kini,” tutur Ardinis. Sayangnya, habitat hidup penyu semakin terdesak. Selain pencemaran sungai, pemanfaatan pantai sebagai tempat wisata dan permukiman penduduk juga membuat penyu enggan bertelur di pantai karena hewan ini membutuhkan tempat di tepi pantai yang gelap serta jauh dari aktivitas manusia.

Selain itu, perburuan penyu juga semakin gencar terjadi di Sumatera Barat, terutama untuk dikonsumsi. Di daerah Muaro Padang, telur penyu dijual bebas seharga Rp 5.000-Rp 7.500 per butir. Selain itu, kerapas dijual seharga Rp 2 juta per buah. Selain penyu sisik, dua jenis penyu lain yang ditemukan di Sumatera Barat adalah penyu belimbing dan penyu hijau. Ketiganya merupakan bagian dari tujuh jenis penyu yang terancam punah, tetapi masih ditemui di dunia ini hingga sekarang.

Pulau Toran
Kepala Bapedalda Kota Padang Indang Dewata serta Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Padang Eyviet Nazmar mengatakan, Pemkot Padang tengah menyiapkan Pulau Toran—salah satu dari 19 pulau kecil yang ada di wilayah Kota Padang—sebagai pulau khusus konservasi penyu.

”Saat ini, kami sedang melakukan survei ulang pulau tersebut serta menyiapkan sarana dan prasarana di pulau itu untuk menunjang lokasi sebagai tempat konservasi penyu,” tutur Eyviet. Pulau Toran terletak sekitar 3 mil dari daratan Sumatera, sehingga relatif aman dari aktivitas manusia. Pulau ini juga cocok sebagai tempat penyu bertelur. Pemkot Padang menargetkan operasional pulau ini pada tahun 2009. (ART)
Sumber: Kompas, 23 April 2008



Reactions:

Tulisan lainnya:

1 comments

  1. Luar Biasa.....! Saya sangat setuju dengan tulisan anda

    BalasHapus