Membangun Peradaban Dari Dalam Rumah (Nicehomework #3)

06 November

Rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantarkan anggota keluarganya menuju peran peradabannya -tim matrikulasi IIP-
Setuju sekali dengan kalimat tersebut. Semua berawal dari keluarga. Meskipun sejujurnya dulu saat memutuskan untuk menikah, tidak terpikirkan sama sekali mengenai fitrah masing masing anggota keluarga. Yang ada hanya "aku" dan "kamu", bukan "kami".

Semakin kesini, menuju usia 9 tahun pernikahan, banyak sekali alasan alasan sepele yang seringkali membuatku jengkel. Tapi beliau, suamiku, selalu saja memahamiku. Suamiku mengizinkanku melakukan apapun yang kuinginkan selama aku bahagia. Saat aku galau ingin mengasuh anak sambil berkarir dari rumah, beliau mem-fasilitasiku dengan memilihkan domain maharku.com dan mensupport urusan dapur toko online-ku. Saat emosiku mulai meradang, dengan sigap, suamiku memberikan aku waktu luang dengan mengajak anak-anak bermain, bahkan tidak jarang pula beliau membawa mereka "berkunjung" ke kantornya. Suamiku selalu berperan sebagai "teman" bagi anak-anakku. Saat badan ini lelah, dengan sigap pula suamiku mengambil alih tugas memasak, bahkan seringkali beliau membuatkan sarapan khusus untukku. Setiap pagi, bila memungkinkan, suamikulah yang menyiapkan anak anak ke sekolah, membantu menyiapkan bekal dan mengantarkan mereka.
Beliau adalah orang yang selalu ada untukku (kucurhati), rekan satu tim dalam membina keluarga kecil kami.

Allah telah memberiku karunia PS I (Yodha), anak ayah-bunda yang pertama. Tekun sekali, bila sudah mempunyai target, pasti akan berusaha untuk mencapainya. Suka membaca, dan hafalannya luar biasa. Sayang dengan binatang dan selalu ringan tangan membantu ayah-bunda.
Karunia kedua dari Allah adalah PS II (Damar), anak ayah-bunda yang kedua. Sesuai namanya, kehadirannya selalu membuat seisi ruangan menjadi "terang" dengan keceriaannya. Gesit dan peka terhadap kebutuhan orang lain. Kreatif memanfaatkan apapun yang ada untuk dijadikan mainan.

Me? Jelas, aku adalah seorang yang introvert. Lebih mudah bercerita lewat tulisan, membaca, telaten, memperhatikan detail, rasional dan (sebisa mungkin) logis. Mungkin itu sebabnya aku lebih banyak beperan sebagai "guru" bagi anak anak, menemani mereka belajar, memfasilitasi mereka mempraktekkan ilmu yang mereka baca / lihat / dengar, membacakan mereka buku cerita. Dan betapa beruntungnya aku tinggal di perumahan yang warganya terdiri dari beragam suku dan agama, meskipun secara usia, sepertinya kami termasuk keluarga paling muda. Kami-pun selalu siap meramaikan acara RT / RW :)



#NHW3 #MatrikulasiIIPBatch2


Reactions:

Tulisan lainnya:

0 comments




Subscribe