NHW 9: BUNDA sebagai AGEN PERUBAHAN, Matrikulasi Institut Ibu Profesional

17 Desember

Mengerjakan tugas kali ini seperti flashback 8 tahun yang lalu ketika "maharku" lahir. Berawal dari kesibukan saat bekerja (di UNESCO Office - tulisan tahun 2007 ternyata masih ada di blog ini) membuat beberapa persiapan pernikahanku tidak sesuai dengan harapan. Ketika itu aku mempercayakan hias mahar dan seserahan begitu saja ke pengrajin di area Cikini, dan hasilnya menurutku: "Aku bisa ngehias mahar lebih rapi dan lebih cantik daripada ini... sayang aku ga punya waktu".
Hingga beberapa bulan setelah menikah, aku masih sempat bertahan bekerja disana, karena memang posisinya pas dengan apa yang aku suka dan apa yang aku pelajari di universitas: bidang marine biology. Workload-nya pun sesuai dengan passion-ku selama ini: sesekali diving keliling Sumatera - Jawa, atau stay beberapa minggu di pulau tak berpenghuni nun jauh di Kalimantan hanya untuk menghitung telur penyu. Tapi... statusku sebagai istri dan calon ibu menjadi "rantai" yang membuatku urung bepergian, apalagi diving! Beruntung, saat usia kehamilan menginjak trimester ketiga, masa kontrakku pun habis. Pamit undur diri, sempat membuatku bingung: nanti rejeki kami datang darimana?

Jadi pengangguran setelah beberapa tahun bekerja membuatku "kelebihan energi", apalagi jabang bayi belum lahir. Pekerjaan rumah saat itu tidak begitu banyak karena kami memang hanya berdua saja. Ga mau terlalu lama patah hati, kucoba gali lagi passion-ku yang lain: kerajinan tangan!.

Berawal dari rasa sakit hati ketika menyiapkan pernikahan, kucoba memposisikan diri menjadi Asti tahun 2007 yang super sibuk, tapi punya akses internet ketika berada di kantor (tahun 2007 booo.. saat HP masih merk nokia yang cuma bisa telpon, sms dan mms; yang harus punya stok sabar selapangan bola ketika browsing internet pakai HP). Saat itu rata rata kantor di Jakarta punya koneksi internet yang sudah bagus, tapi belum ada smartphone (belum ada facebook!!! apalagi marketplace macam lazada, tokopedia atau bukalapak or shopee or .....dan lain lain). Disitu aku melihat peluang, bahwa belum ada pengrajin khusus hias mahar di Indonesia yang memasarkan produknya via internet. Target marketku jelas: memudahkan calon pengantin yang sibuk tapi punya akses internet mendapatkan mahar dan seserahan yang sesuai selera.

Yang kulakukan pertama kali adalah membeli hosting dan domain. Membuat beberapa contoh desain mahar yang aku suka. Kemudian upload di website. Rupanya banyak calon pengantin yang merasa terbantu. Alhamdulillah.

PASSION + EMPHATY = SOCIAL VENTURE

Social venture adalah suatu usaha yang didirikan oleh seorang social enterpreneur baik secara individu maupun organisasi yang bertujuan untuk memberikan solusi sistemik untuk mencapai tujuan sosial yang berkelanjutan.
Sedangkan social enterpreneur adalah orang yg menyelesaikan isu sosial di sekitarnya menggunakan kemampuan enterpreneur. Sehingga bunda bisa membuat perubahan di masyarakat diawali dari rasa emphaty, membuat sebuah usaha yang berkelanjutan diawali dengan menemukan passion dan menjadi orang yang merdeka menentukan nasib hidupnya sendiri.



Reactions:

Tulisan lainnya:

0 comments