Komunikasi Produktif : Beri Anak Kesempatan Memilih

28 Januari

Komunikasi Produktif: beri anak kesempatan untuk memilih


Aktivitas hari Sabtu pagi adalah mengganti seprei kamar. Biasanya pukul 7.30 hingga 8.30 Yodha online bareng dengan komunitasnya di cerivitas untuk mengerjakan game coding Code Combat (pemrograman). Sebelum dia online, aku iseng tanya:
b = mas, mau bantuin bunda beres-beres kamarmu?
Y = boleh. Tapi nanti ya, setelah Code Combat selesai.
b = -dalam hati: horeee- ok, makasih.

⋊⋉---ᕘᕚ---⋊⋉

Dulu,, -sebenarnya sampai sekarang sih- aku selalu terjebak pada komunikasi tidak produktif.

Memerintah memang jauh lebih mudah dibanding mengajak.

Dari sejak membangunkan tidur, dulu kalimat "Mas, Adek, ayo cepetan bangun, sudah siang, sarapannya sudah siap, nanti telat lho". Ketika hendak berangkat sekolah: "Mas, Adek, ayo cepetan mandi, trus gosok gigi, trus siapin sendiri bekalnya, mau bawa bekal yang mana ini?"
Pun ketika hendak tidur, kalimat tipe seperti itu terus kubombardir "Mas, Adek, ayo bereskan dulu mainannya, buku-bukunya disimpannya dimana hayoo? Pensilnya kok masih disini? Ayo, ayo, dibereskan terus bunda nanti bacain buku ini".
Yang baca aja pusing ya, apalagi yang dengerin... he3x
Itu sebabnya, sampai mulutku berbusa, mereka tetap saja asyik melakukan aktivitasnya tanpa mendengarkan perintahku.

⋊⋉---ᕘᕚ---⋊⋉

Berbicara kepada anak berarti komunikasi searah. Isinya biasanya perintah dan nasihat. Orang dewasa yang berbicara kepada anak, umumnya beralasan bahwa anak belum dapat melakukan percakapan tingkat dewasa. Tapi, tak seorang pun, termasuk anak kecil, yang senang diperlakukan begitu. Berbicara dengan anak berarti komunikasi dua arah. Bergantian berbicara dan mendengarkan.

Sekalipun anak masih kecil, sebaiknya anak dilibatkan dalam kehidupan, diberi kesempatan memilih, berbicara, berpendapat, mengungkapkan perasaan dan keinginannya. Semakin besar anak, semakin mampu dia menangani pilihan dalam hidup, jika dari awal dia mendapatkan haknya memilih dan menerima konsekuensi dari pilihannya.

Rasa percaya diri, harga diri, dan keterampilan hidup akan tumbuh sejalan dengan setiap pengalaman yang mendukung. Sebaliknya, orangtua yang tak pernah melibatkan anak, akan membunuh potensinya dan menjadikannya bergantung selamanya kepada orangtua.

⋊⋉---ᕘᕚ---⋊⋉

Kembali ke kisah pagi ini. 
Yang biasanya mereka berdua enggan membantu merapikan kamar, kali ini, setelah Code Combat selesai, mereka dengan senang hati membantu beres-beres kamarnya. 

Sekarang, aku mulai membiasakan untuk bertanya kepada mereka, berapa menit lagi mereka ingin melanjutkan aktivitas (main) dan beralih ke kegiatan lain (mandi, makan, beres-beres). Dalam hal ini, kitchen timer benar benar berguna ☺. Misalnya ketika sudah saatnya mereka mandi, tapi mereka masih asyik bermain:
b = Damar mau mandi berapa menit lagi?
D = ngg,, 30 menit lagi deh -sambil mengambil timer dan menyetel waktu yang dia tentukan-
b = ok
Kitchen timer untuk membantu anak memilih


Untuk memudahkan proses bangun tidur di pagi hari, aku mulai membiasakan untuk bertanya kepada mereka sebelum tidur, kira kira besok pagi mau dibangunkan jam berapa dan dengan cara yang bagaimana? Malam ini, mereka sepakat bahwa besok adalah giliran Damar yang menentukan, dan request-nya adalah bangun tidur disetelkan 1 video tentang blue whale.
b = Mas Adek besok mau bangun jam berapa?
Yodha Damar serentak jawab = pas subuh!!!
b = baiklah -sambil nyingsingkan lengan baju-


Mungkin terlihat ribet di awal, tapi rasanya lebih mudah karena prosesnya jauh lebih menyenangkan. ☺

#hari2
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Sumber bacaan:
Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari, Yuk Jadi Orangtua Shalih!, Mizania, 2016.
Materi Kelas Bunda Sayang sesi #1, Institut Ibu Profesional, 23 Januari 2017.


Reactions:

Tulisan lainnya:

7 comments

  1. Kalau lebih sabar, anak2 pun nurut2 ya, mba :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hi3x teorinya sih begitu.. tapi prakteknya susah sekali sabar #tunjukdirisendiri ;p

      Hapus
  2. Wah keren mbak caranya. Jadi terinspirasi. Saya masih harus banyak belajar nih untuk komunikasi dengan anak2

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba, sama.. sampai detik ini pun aku masih harus terus belajar berkomunikasi dengan anak-anak.. semangat ya!

      Hapus
  3. inspiring mbak thx :D
    btw itu alat yg dipegang anaknya apa ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. pegang "kitchen timer" mba. Dia maunya setel sendiri waktu yang dia inginkan.

      alhamdulillah bila tulisan ini bisa menginspirasi :)

      Hapus
  4. wiih, mbaa... aqyu banget deh
    Bisanya merintah anak, ini dulu lah, itu dulu lah ... alhasil anak ga punya kebebasan memilih dan menentukan sendiri apa yang ia mau.

    BalasHapus




Subscribe