Aliran Rasa Komunikasi Produktif

18 Februari

Aku berusaha membebaskan pikiranmu, Neo. Tapi aku hanya bisa menunjukkan pintu. Kamu sendirilah yang harus berjalan melewatinya.
-Morpheus dari The Matrix

komunikasi produktif


Akhir bulan Januari lalu, kelas yang kuikuti di Institut Ibu Profesional "menggelar" tantangan untuk berkomunikasi dengan masing-masing anggota keluarga dan menuliskannya di blog ini. Dari 17 hari yang disediakan, alhamdulillah aku mampu menuliskan sesuai target tantangan: 10 hari. Tantangan ini menjadi satu titik awal yang memperkenalkanku pada komunikasi produktif, mencakup didalamnya komunikasi dengan diri sendiri, komunikasi dengan anak serta komunikasi dengan pasangan.

Lazimnya perubahan paradigma, persoalan yang selalu mengiringi dalam melewati tantangan ini adalah begitu kuatnya "legacy" masa lalu dalam membelenggu pikiranku. Legacy inilah yang membuatku menganggap resep-resep mujarab komunikasi masa lalu sebagai yang terbaik dan yang paling benar; sementara ilmu baru adalah ibarat teroris yang harus ditumpas sejak dini.

Diantara ketiganya, komunikasi yang paling menarik adalah komunikasi dengan diri sendiri. Hanya ada dua jenis pikiran: pikiran yang memberdayakan dan pikiran yang tidak memberdayakan. Bagaimana caraku berkomunikasi dengan diri sendiri? Seberapa baikkah "hubungan pertemanan"ku dengan diriku sendiri? Seberapa banyak kata-kata positif yang kuucapkan pada diri sendiri? Ucapan positif akan menarik energi yang selaras, karena hidup hanyalah cermin, pantulan dari apa yang kurasakan dan kupercayai tentang aku sendiri saat ini. Aku adalah apa yang aku pikirkan.

Yang kemudian kusadari adalah; ada banyak pilihan dalam hidup yang TIDAK membutuhkan perubahan, bahkan apabila mereka tidak memenuhi "kriteria"ku. Aku tidak bisa mengubah mereka (misalnya: pasanganku atau keluargaku). Yang bisa kuubah hanyalah diri-ku sendiri dan reaksi-ku terhadap mereka dan atau orang lain. Menyadari pemilihan kata yang kuucapkan dan mengubahnya adalah langkah pertama menuju kebebasan total. Positif atau sebaliknya? My choice.

Kata-kata membawa energi, sama halnya seperti listrik; listrik tidak punya nilai "baik" atau "buruk". Listrik tidak berpikir; listrik hanya ada. Tetapi, listrik dapat digunakan untuk kebaikan atau sebaliknya. 

Every word has power. Setiap kata yang kupikirkan dan kuucapkan adalah kendaraan pribadiku menuju suatu tempat. Kata-kata menyusun tujuan dan kecepatan untuk tiba disana. Kata-kata-lah yang memungkinkan aku mengendalikan nasibku sendiri.

Komunikasi dengan orang lain -anak atau pasangan-, menurutku adalah langkah kedua setelah komunikasi dengan diri sendiri selesai. Layaknya pertolongan pertama dalam keadaan darurat yang selalu diperagakan oleh pramugara/i tiap kali pesawat akan boarding, sebelum menolong orang lain, kita wajib memastikan keselamatan diri sendiri terlebih dahulu.

Agak berbeda dengan komunikasi pada diri sendiri, dalam komunikasi dengan orang lain, proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain, kata-kata hanya berperan 7%. Sisanya adalah bahasa tubuh (non verbal) dan intonasi penyampai pesan. Secara sederhana, keberhasilan komunikasi ditunjukkan secara jelas oleh respon yang didapat; apakah respon penerima pesan sesuai dengan harapan penyampai pesan?

Bila tidak sesuai, maka kesalahan ada pada penyampai pesan.


Mirip seperti Morpheus dalam film The Matrix (agak maksa ya, he3x), tantangan dari Bu Septi berusaha membebaskan pikiranku, dan menunjukkan pintu-pintu mana yang bisa kulewati. Pada akhirnya, aku sendiri-lah yang bertanggung jawab untuk membuat orang lain mengerti apa yang kusampaikan.


Sumber bacaan:
_Materi Kelas Bunda Sayang sesi #1, Institut Ibu Profesional, 23 Januari 2017.
_Oswald, Yvonne., Keajaiban Kata-Kata : Ubahlah Hidup Anda dengan Kata-Kata yang Positif. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2008.
_https://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi



Reactions:

Tulisan lainnya:

2 comments

  1. Yes..benar sekali..komunikasi itu power..kalau komunikasi sudah rusak...maka susah membangunnya...ujung2nya ya missunderstanding :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi kalau missunderstanding malah jadi penuh prasangka dan berubah profesi jadi peramal ya

      Hapus