Meminjam Masa Depan: Belajar Memaafkan

11 Februari

Siang hari menjelang anak-anak berangkat bermain futsal, aku memutuskan untuk membaca buku sambil menunggu kedatangan tamu di kamar tidur. Karena kondisi rumah yang berada tepat di tanjakan, maka anak-anak biasanya memang bermain bola di dalam rumah.
Ya, mereka bermain bola di dalam rumah.

Mereka biasanya menggiring bola dari ruang tamu menuju ruang keluarga, dan menge-golkannya di kamar tidur tempat aku membaca saat itu. Kadang, bila ada waktu, aku ikut meramaikan tim dengan meng-gocek bolanya.

Saat itu rutenya tidak seperti biasa. Entah kenapa, mereka inginnya bermain di dekatku. Mereka bermain bola di dalam kamar, sementara aku tetap saja duduk di atas kasur sambil membaca buku. Awalnya bola masih terkontrol, tapi tiba-tiba dengan satu tendangan, bolanya sukses mendarat di mukaku.
Duh. Rasanya tidak hanya muka, tapi hati ini juga ikut mendidih. Kedua anakku seketika menghentikan aktifitasnya, dengan bahasa tubuh ketakutan sambil menunggu reaksiku. Sambil menahan diri untuk tidak meledak, aku meminta mereka untuk segera keluar dari kamar.

sumber gambar: http://invitetoislam.tumblr.com/
Sendirian di kamar, aku berusaha mengendalikan diri sambil "meminjam masa depan"; membayangkan kejadian ini beberapa hari kedepan...

Bijak kah bila aku marah?

Apakah marahku saat ini akan lebih banyak mendatangkan dampak positif atau negatif setelahnya?

Apakah ini murni sengaja atau tidak?

Rasa sakit yang kurasakan, lebih banyak di bagian yang kena bola atau egoku?

Apakah kejadian ini masuk dalam kategori berat sehingga aku harus marah besar?



Beruntung saat itu aku dalam posisi di kamar dan mampu memisahkan diri dari pencetus emosi negatifku.

⋊⋉---ᕘᕚ---⋊⋉

Menilik ulang hari-hari setelah menyandang status "ibu", rasanya banyak sekali kejadian spontan (yang dilakukan anak-anakku), -baik yang dilakukan secara sengaja atau tidak- yang memicu emosi negatif. Kadangkala aku mampu berpikir jernih, tapi kadang meledak juga. Kuperhatikan, aku akan bereaksi negatif secara spontan apabila saat itu dalam keadaan tertekan dan tidak bisa memisahkan diri dari sumber pencetus emosi.
Semua buku-pengetahuan-ajaran-ilmu seolah menguap dikuasai emosi.
Dan setelahnya,, timbul rasa penyesalan yang sangat hebat, dan itu tidak mengenakkan. :(

Emosi bukanlah tentang benar atau salah. Takut, marah, sedih atau kecewa adalah emosi yang wajar dan manusiawi. Yang penting kita tidak larut dalam perasaan negatif dan tidak mengambil keputusan penting saat emosi masih kacau.

⋊⋉---ᕘᕚ---⋊⋉

Setelah berdamai dengan diriku, aku menghampiri kedua anakku, dan menyampaikan dengan kalimat yang jelas, tanpa menyalahkan keduanya:
Bunda merasa kesakitan (X) saat bola mengenai muka bunda (Y) padahal bunda sudah duduk di bagian pojok kasur (Z).
Mereka berdua -sambil menahan tangis- meminta maaf, dan kamipun berpelukan.

#hari10
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip


Reactions:

Tulisan lainnya:

1 comments

  1. TFS mbak, aku kdng msh suka meledak ma anak2 apalagi kalau capek :(

    BalasHapus




Subscribe