Ying si Kucing

15 Februari



Siang kemaren tiba-tiba ada pertanyaan di wa grup #1minggu1cerita "Ada yang punya pengalaman punya (baca: piara) kura kura?"
Hi3x jadi inget si Pono, kura kura brasil yang setia nemenin aku nge-kos sewaktu kuliah. Dari sejak kecil hingga akhir masa lajang, aku selalu memilih untuk memelihara hewan berdarah dingin: segala macam ikan: (kecuali arwana dan lou han) ikan cupang, ikan mas, ikan koki, dan terakhir kura kura. Bagiku, hewan berdarah dingin mudah dirawat. Cukup dibersihkan minimal seminggu sekali dan diberi makan secara rutin, mereka akan survive. Kucing-kucing eksotik semacam anggora / persia, selain tidak terjangkau budget anak kos, mereka juga membutuhkan perawatan ekstra untuk membersihkan kandang dan grooming bulu-bulu setiap harinya. Sementara kucing kampung: jumlahnya memang banyak di depan rumah, tapi tidak dipelihara di dalam rumah. Mereka datang hanya saat jam makan saja. Selebihnya keluyuran entah kemana.

Pengalaman pertama memelihara hewan mamalia adalah hamster tahun 2012. Saat itu Yodha (masih TK A) mendapat tugas untuk membawa hewan peliharaan untuk acara show and tell di sekolah. Sebenarnya aku sudah mengarahkan Yodha untuk membeli kura kura di toko akuarium. Tapi ternyata di toko itu ada hamster yang dijual. Ya sudahlah, akhirnya kami pulang membawa hamster. Sesampainya di rumah, rupanya Yodha alergi dengan serbuk kayu yang berfungsi sebagai alas kandang hamster. 3 bulan sejak memelihara hamster, batuk Yodha tidak juga sembuh. Akhirnya hamster-nya kami kembalikan ke toko yang sama, dan ditukar dengan ikan (karena tidak ada kura-kura). Tapi ikan pun tidak bertahan lama di rumah ini karena kurangnya "bonding" antara Yodha dengan ikan. Aku, dengan kesibukan toko online dan ditambah mengurus Damar yang saat itu masih berusia setahun, tidak sempat ikut bantu membersihkan akuarium.

⋊⋉---ᕘᕚ---⋊⋉


Awal tahun 2016, tepatnya bulan Maret, kami kedatangan tamu. Biasanya tiap hari ada beberapa kucing kampung yang menungguku di depan rumah saat aku buang sampah (untuk berebut sisa makanan di tempat sampah). Hari itu rupanya ada tambahan "anggota". Seekor kucing berwana putih dengan badan kotor, bau dan kurus, mengeong kelaparan di halaman depan. Esok harinya, kucing itu ternyata masih tetap menungguku persis di depan pintu.




Kami semua langsung jatuh hati dengan makhluk kecil itu. Terutama Damar. Dia bahkan sampai merengek meminta ijin supaya Ying (nama yang kami berikan untuk kucing itu) bisa tidur di dalam rumah. Oh noooo.. bayanganku langsung kemana-mana, takut nanti ada kutu yang ikut mampir di kasur, belum lagi penyakit toxoplasma yang santer terdengar. Akhirnya, setelah dimandikan, kami membawa Ying ke dokter hewan untuk memastikan kesehatan dan keamanannya bila dipelihara di dalam rumah.



Di dokter hewan, kami diberi buku saku berjudul "Pet Heath Passport" yang isinya guideline penting merawat hewan peliharaan, pentingnya vaksinasi, jadwal vaksinasi dan waktu yang tepat untuk memberikan obat cacing. Di dalam buku tersebut juga ada medical record hewan peliharaan. Terselip rasa lega setelah mendengar penjelasan singkat dari dokter hewan bahwa kucing -yang dirawat dengan baik- adalah binatang peliharaan yang aman untuk anak dan tidak membahayakan kesehatan pemiliknya.


⋊⋉---ᕘᕚ---⋊⋉ 

Akhir-akhir ini, sudah banyak peristiwa (di media massa dan media sosial) yang mengindikasikan bahwa empati menjadi barang langka :(. Tidak peduli banyaknya prestasi anak-anak, keberhasilan mereka sebagai orang dewasa tidak ditentukan oleh jumlah piala yang mereka raih. Diambil dari bahasa Yunani yang berarti "ketertarikan fisik", empati didefinisikan sebagai kemampuan untuk merasakan keadaan emosional orang lain, merasa simpatik, dan mengambil perspektif orang lain.

Rumah adalah tempat pertama anak-anak mempraktikkan keterampilan ber-empati mereka. Cara-cara yang diperbolehkan ketika memperlakukan satu sama lain, (termasuk hewan peliharaan; memberi makan dan minum untuk hewan peliharaan) menyampaikan pesan, bahwa peduli terhadap orang lain (dan juga hewan) itu penting.

Dalam buku berjudul Mengkomunikasikan Moral Kepada Anak, disebutkan bahwa pada dasarnya kepedulian dan empati dapat dikembangkan sejak dini, karena manusia secara fitrahnya memiliki perasaan ini. Dengan merawat hewan, anak belajar memperhatikan sesuatu, menyayangi dan melindungi.


⋊⋉---ᕘᕚ---⋊⋉ 

"Ying sudah makan belum ya? Kasihan kalau kelaparan, kamu sendiri kalau lapar bagaimana? Sakit kan perutnya?"

"Kira-kira Ying lebih suka dielus atau digendong ya?"

Kehadiran Ying di tengah keluarga kami, memang membawa banyak perubahan. Dari segi tanggung jawab misalnya, Yodha sudah mampu dan bersedia mengganti dan membuang cat litter dengan ikhlas. Dari segi empati, dalam kurun waktu kurang dari setahun, mereka berdua mampu "membaca" kapan saatnya Ying diberi makan, digendong, diajak bermain atau saatnya dibiarkan tidur. Dan kadang, bila mereka melihatku (atau ayah) sedang mengerjakan sesuatu, mereka secara spontan bertanya "Aku bisa bantu apa?"


Alhamdulillah, makasih Ying sudah memberi kami kesempatan untuk melewatkan waktu bersama.






Sumber bacaan:
_Sears, William. The Succesful Child: Panduan Lengkap Membangun Kepribadian dan Mengoptimalkan Kesuksesan Anak, Mulai dari dalam Kandungan hingga Remaja. Jakarta: Bening Publishing, 2005.
_Wahyuning, Wiwit., Jash, Metta Rachmadiana. Mengkomunikasikan Moral Kepada Anak. Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2003.
_https://id.wikipedia.org/wiki/Empati


Reactions:

Tulisan lainnya:

16 comments

  1. anakku setiap memelihara hewan mati. mau diajari empati tapi mati melulu kasihan juga.

    salam
    ardentusstory.com

    BalasHapus
  2. Wah seru dan anak tampaknya banyak belajar dari memelihara hewan.

    Yodha umur berapa ya Mbak? Anakku 4 tahun juga minta kucing, sblmnya sama sekali ga ada pengalaman punya hewan peliharaan. Jadinya saya agak ragu2, kalo2 anaknya blom bisa ngurus, nanti tanggung jawab jatuh ke Ibu 😒
    -Tatat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yodha 8 tahun, damar barusan 6 tahun minggu kemaren. Iya, sama,, dulu aku juga berpikir begitu: nanti ujung-ujungnya aku lagi yang kebagian tanggung jawab.. he3x..
      Udah lama sebenarnya mereka pingin kucing, tapi ga dieksekusi karena harga kucing mahal (he3x). Eh, berapa bulan berselang, nemu kitten (Ying) yang nyasar di depan pintu. Rupanya lebih mudah merawat kucing kampung (tipe short hair) karena mereka bisa membersihkan diri sendiri, jadi daya tahan tubuh lebih kuat dibanding kucing berbulu panjang.

      Hapus
  3. Gak pernah bisa telaten pelihara hewan. Pengin tapi kasian daripada nantinya terlantar. Salut deh yang punya hewan piaraan. Apalagi kalau punya banyak.

    BalasHapus
  4. Kucing memang menggemaskan mbak.. Rnak banget buat ngunyel-ngunyel..
    Sehat buat keluarga mbak dan ying... Aamiin..

    BalasHapus
  5. Waah, dari lihat foto before afternya si ying jadi inget sama kucingku pas kuliah dulu mbak.. Btw tooss, saya juga dr kecil suka banget pelihara binatang, hehe.. Btw bikin gambar yg ganti2nya (duh apa ya istilahnya, hihi) pakai aplikasi apa mba? #kudet banget kalau masalah begituan, huhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. pakai google photos mba..
      kalau di komputer aksesnya via https://photos.google.com/ atau bisa pakai aplikasi Google Photos via smartphone

      Hapus
  6. Wuah si Ying dari Kurus kerempeng jadi cantik pas di akhir.
    Baru pertama kali liat kucing yang warna bola matanya beda.
    Si Ying ternyata foto genic juga. Hehehe.
    Aku juga suka kucing, tp sama org rumah gak boleh dipelihara, slx bulu-bulunya sering rontok. Katanya bs ganggu jalan pernafasan.Akhirnya cuma bisa ngelus2 kucing yang ketemu di jalan T_T

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, rutin dimandikan, jadi bersih..
      Kucing yang berbulu panjang emang perawatannya harus ekstra supaya ga rontok bulu2nya.. sementara kalau kucing jalanan, meskipun minim perawatan, tapi nasibnya banyak yang mengenaskan T.T

      Hapus
  7. akupun pernah ada kucing di rumah, tapi gak bertahan lama gegara itu kucing di siksa terus sama anaku, malah kasian kucingnya -.-"

    BalasHapus
    Balasan
    1. mungkin anaknya ga ada maksud nyiksa mba,, gemes kali, kucing disamakan seperti boneka..
      karena mungkin usia-nya belum "ngeh" kalau kucing tidak suka dipegang-pegang terus sepanjang hari

      Hapus
  8. akupun pernah ada kucing di rumah, tapi gak bertahan lama gegara itu kucing di siksa terus sama anaku, malah kasian kucin nya -.-"

    BalasHapus
  9. Kata teman saya, Kucing itu memilih rumahnya.
    Jadi entah harus bahagia atau apa ketika tiba-tiba buka pintu di teras sudah ada kucing yang berleha-leha. Mau diusir, eh, Neneng Aul malah ngajakin ngomong. Kacian.. gak ada mamah-nya. cenah... :D

    BalasHapus




Subscribe