Ada Untuk Menjadi Nyata

22 Maret


"Kuberitahu sesuatu ya mba,, yang namanya emansipasi itu b*llsh**t. Ga ada ceritanya perempuan bisa sukses di karier, keluarga dan membina hubungan dengan pasangan sekaligus ketiganya. Kalaupun ada, pasti mereka pandai "menyembunyikan" ketidaksuksesannya."

uhukk..
Hampir saja aku keselek denger curhatan perempuan yang baru kukenal ini. Sore itu, sambil menemani kedua anakku berlatih futsal, aku sengaja mojok di kantin untuk menikmati secangkir kopi sachet dan membaca buku yang kuambil acak ketika berangkat. Perempuan usia kepala 3 yang duduk di depanku ini adalah pemilik lapak soto di jejeran lapak kantin.

Emansipasi? Ada yang salah dengan kata itu ya mba, tanyaku. "Coba aja lihat perempuan-perempuan yang sukses di kariernya. Periksa baik-baik keluarganya, pasangannya, anak-anaknya. Pasti ada yang broken di salah satunya". Ucapnya seyakin batu.

Rupanya, si mba ini dulunya seorang sekretaris yang bekerja di perusahaan perminyakan. Dengan workload yang cukup tinggi, si mba mampu menopang hampir semua kebutuhan keluarga kecilnya. Tapi hampir setahun yang lalu, dia memutuskan untuk berpisah dengan suaminya, dan akhirnya keluar dari tempatnya bekerja karena tidak bisa konsentrasi ketika mengurus perceraiannya.
"Aku ga nyangka harus pisah. Selama ini kami ga pernah bertengkar lo mba. ...... "
.
.
dan rangkaian kata pun terus mengalir dari bibirnya..
.
.
Selama mendengarkan si mba curhat, pikiranku melayang kembali ke awal mula pembicaraan kami:
Si mba : Mba-nya kerja?
Aku : Ngg,, sebenarnya aku punya usaha online,, tapi yah.. begitu-begitu saja.. sambil meringis.
S: Mba-nya ga punya target kali. Sambil meringis juga.

..Jleb..

Mungkin tebakannya benar, bahwa saat ini aku bekerja tanpa target omset yang jelas.
Mungkin benar kata-kata yang terlontar darinya, bahwa perempuan tidak bisa sekaligus sukses di karier, anak dan hubungan dengan pasangan.
Mungkin benar..
Sejak berwirausaha tahun 2008, hingga saat ini, toko-ku ya begitu-begitu saja. Semua dikerjakan sendiri, mulai dari customer service, akunting, menyiapkan bahan, merangkai, quality control, pengiriman sampai internet (sosmed) marketer. Kalau owner-nya libur, ya tokonya tutup.

Terus terang sudah setahun ini aku dilanda kegalauan. Ingin rasanya fokus mengembangkan usaha online-ku, ikut pameran wedding, meng-iya-kan ajakan wedding organizer untuk bekerja sama jadi partner, dan sederet keinginan lainnya.

Tapi keinginan itu hanya sebatas keinginan.

Kenyataannya, aku ga bisa begitu saja ninggalin anak-anakku. Prioritasku masih tetap membersamai mereka beraktivitas. Dulu ketika mereka masih bayi, kupikir aku bisa fokus ke bisnis online-ku ketika mereka sudah sekolah. Dan kini, setelah salah satu dari mereka sekolah dasar, usaha online-ku ya tetap saja begitu, seolah jalan di tempat. Alhamdulillah tiap bulan masih ada yang order, tapi ya begitulah.. jumlah pemesan dari dulu ya segitu-segitu aja.

Gregetan rasanya ketika ada pemesan yang butuh cepat, tapi harus kutolak karena aku tidak sanggup kerjakan dalam waktu kurang dari 3 minggu.
Gregetan rasanya ketika ada penawaran dari wo untuk ikut berpartisipasi dalam pameran atau ekspo, tapi harus kutolak karena aku harus antar jemput anak-anak, memastikan mereka kenyang, membacakan buku cerita, menyediakan telinga untuk mendengar keluh kesah atau sekedar berbagi bahagia mereka ketika beraktivitas di sekolah.

Rasanya seperti berdiri diantara dua papan yang mengapung di atas sungai yang mengalir.
Harus terus menjaga keseimbangan supaya tidak tercebur!

Well, itu pilihanku. Aku, dengan kesadaran penuh, memilih untuk memprioritaskan anak dan keluarga. Kegalauan ini, meskipun kadang datang mendera,, tapi terasa padam ketika melihat mereka tersenyum.
Waktu terus berjalan maju dan mustahil kuulang.




Reactions:

Tulisan lainnya:

0 comments




Subscribe