Hanya Pengasuh

09 April



Bagi seorang yang perfeksionis seperti aku, dulu, pengakuan dari orang lain tentang keberadaanku sangatlah penting untukku. Positif, karena ada semangat berprestasi yang berkobar disana. Negatif, apabila pengakuan dari orang lain tidak sesuai dengan harapanku. Seiring dengan berjalannya waktu, tenaga dan pikiranku telah terkuras sebelum "bertanding". Dan sekarang, ketika anak-anak sudah masuk ke dunia sekolah dasar, perasaan haus akan pengakuan itu meletup lagi. Perasaan itu begitu kuat, hingga aku merasa harus bertanya pada diri sendiri:

"memang harus ya, kamu mendapat penghargaan itu?"
"ya, karena aku sudah melakukan tugas sesuai kriteria. Aku ingin mereka mengakui bahwa aku hebat."
"siapa mereka?"
"entahlah..."
"Kalau sudah mendapat pengakuan bahwa kamu hebat, apa yang akan kamu lakukan? berapa lamakah rasa bangga itu bertahan?"
"entahlah"
"bagaimana kalau kamu dapat penghargaan yang kamu mau, tapi ternyata di kemudian hari keluarga dan anak-anakmu berantakan?"
"mungkin aku akan malu"

"jadi, seberapa pentingkah pengakuan yang kamu mau?"
"entahlah..."

⋊⋉---ᕘᕚ---⋊⋉

"Kami bukan pembina candi,
kami hanya pengangkut batu,
kamilah angkatan yang mesti musnah,
agar terjelma angkatan baru,
di atas kuburan kami lebih sempurna."
Henriette Roland Holst (1869-1952)
Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial. Tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Sejalan dengan ketergantungannya, ada motivasi, ada keinginan untuk dihargai, ada pula keinginan untuk menunjukkan keberadaan dirinya.

Jauh diatasnya, ada keinginan untuk membina generasi selanjutnya yang lebih sempurna. Puisi Holst itu adalah terjemahan Rosihan Anwar berdasar pada tulisan tangan dalam bahasa Belanda pada notes yang ditemukan dalam saku Letnan Soebijanto Djojohadikoesoema. Perwira muda ini gugur bersama Mayor Daan Mogot komandan Akademi Militer Tangerang beserta para taruna dalam pertempuran pada 25 Januari 1946 di Tangerang. Pertempuran untuk melucuti senjata pasukan Jepang tersebut dikenal sebagai Pertempuran Lengkong. Sajak tersebut, hingga saat ini masih tegar menghiasi pualam Taman Makam Pahlawan Taruna Tangerang.

Penggalan syair diatas persis seperti yang kurasakan saat ini.

Aku hanyalah pengasuh kedua anakku, dengan harapan supaya kelak mereka menjadi manusia yang lebih sempurna daripada aku.

sumber bacaan:
70th HistoRI Masa Depan. 2015. Galeri Foto Jurnalistik Antara.


Reactions:

Tulisan lainnya:

0 comments




Subscribe