Learning by Facilitating

14 Oktober



Kamis malam lalu, kami diajak bu Septi untuk memaknai pendekatan dalam proses belajar menjadi fasilitator kelas Bunda Sayang. Learning by Facilitating. Dua kata itu adalah hal dasar untuk mengikat makna. Secara harfiah, To learn artinya menggali pengetahuan mengenai suatu subyek atau aktivitas, sementara To facilitate artinya memudahkan.

Memfasilitasi, sejatinya adalah menggerakkan ruh dalam satu tujuan. Ibarat memanah, -agar ruh-ruh ini bergerak selaras- , sebelum menarik busur dan menggerakkan anak panah, harus ada kesepakatan di awal; manakah sasarannya, bagaimana aturan bermainnya dan apa konsekuensi yang ditanggung apabila menyalahi kesepakatan. 

Dalam prosesnya, kepercayaan adalah hal yang mutlak ada, supaya semua ruh terbuka dan bersinergi; menerima dan berbagi  apa saja (selama tidak menyalahi kesepakatan bersama) untuk mencapai satu tujuan.
Tanpa dilandasi kepercayaan, peserta tidak akan serta merta mengizinkan pikirannya menerima informasi / pemikiran / ide dengan ikhlas.  Kepercayaan, menurutku, akan terbangun dengan melakukan banyak interaksi bersama, adanya empati, dan juga apresiasi. 

Informasi > Pikiran > Perasaan > Perilaku

“Percaya tanpa syarat” adalah modal dasar pendekatan Learning by Facilitating. 
Gunakan hati untuk menyentuh perasaan, emosi, intuisi, imajinasi dan harapan para peserta.


Bukan bu Septi bila tidak ada “tantangan”. Terimakasih banyak ya bu..

Sumber tulisan:

Diskusi Online WhatsApp Grup Enrichment Bunda Sayang bersama Ibu Septi Peni Wulandani, IIP. 12 Oktober 2017 


Reactions:

Tulisan lainnya:

0 comments