Me-Time Bersama Bapak

24 November

Saya membuat pengingat "Telpon bapak" setiap hari pukul 18.10 WIB, bukan "Telpon ibu".

sumber gambar: screenshot wallpaper komputer


Alasannya simpel. Semenjak menyandang predikat bunda, saya lebih nyambung ngobrol bersama bapak. Rasa-rasanya, setelah saya telaah, proses komunikasi kami berdua kurang layak disebut ngobrol, karena pada prakteknya, lebih banyak monolog. Biasanya, setelah saya selesai mengutarakan isi hati, bapak hanya akan bersuara "hmm". Bapak hanya akan berpendapat kalau saya memintanya. Selain itu, tidak. Kalau saya tidak menanyakan pendapat beliau, bapak biasanya akan ngudang layaknya saya masih kanak-kanak.
"anak wedok-dok, anak pinter-ter" dengan langgam jawa-nya yang khas.

Namun hari ini, tanggal 23 November 2017 agak berbeda.

Pukul 18.10 saya mencoba menelepon via whatsapp. Tidak seperti biasanya, panggilan saya tidak beliau angkat. Sekitar pukul 20 lewat 30 menit, saya coba telepon kembali. Alhamdulillah, kali ini nyambung.
"Pak, tadi kok ngga angkat telponku?" tanya saya menyelidik.
"Iya, tadi bapak menemani ibu"
"Tumben? Menemani kemana pak?" tanya saya mulai khawatir.
"Ibu tadi sore jadwal ngajar di Ciputra. Kasihan kalau nyetir sendirian" jawab beliau. Singkat.
"ooh, ya sudah. Bapak sama Ibu sudah makan malam?"
"Sudah."

Tidak ingin mengganggu istirahat bapak dan ibu, saya sudahi percakapan kami.


⋊⋉---ᕘᕚ---⋊⋉

Masih jelas di ingatan saya, cerita ibu seminggu yang lalu.

Sore menjelang maghrib, dalam perjalanan sepulang mengajar di salah satu universitas area Surabaya, di kawasan jalan bebas hambatan yang menghubungkan Gresik dan Surabaya, ada penyempitan jalan karena perbaikan. Tiba-tiba, mobil yang dikendarai Ibu diseruduk mobil pick-up dari belakang.
Kronologisnya, pick-up tersebut terburu-buru menyalip mobil yang berada persis di belakang mobil ibu. Tapi karena jarak antara penyempitan jalan dengan posisi mobil ibu pendek, supir pick-up yang kaget melihat palang penyempitan, membanting setir dan menabrak bagian belakang mobil ibu. Karena ditabrak cukup keras, lampu belakang mobil pecah. Saat itu ibu menyetir sendirian, sementara pick-up tersebut berisi satu orang pengemudi, satu orang laki-laki muda berusia akhir 20an tahun dan satu lagi perempuan yang usianya tidak terpaut jauh dengan usia ibu. Layaknya korban dan pelaku, ibu dan kedua penumpang pick-up sama-sama turun. Laki-laki muda itu langsung memberondong ibu dengan alasan-alasan yang intinya tidak mau disalahkan. Tanpa banyak melakukan kontak mata dan percakapan, ibu menjawab singkat, "Iya, damai". Lalu ibu kembali ke mobil, dan segera melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Sempat terlihat oleh ibu, di kaca spion, perempuan yang tadi ikut turun menemani laki-laki itu, tiba tiba tidak sadarkan diri dan digotong masuk ke dalam pick-up.

"Ibu kok berani sekali menghadapi kejadian itu" tanya saya sehari setelah peristiwa tersebut (via telepon whatsapp).
"Sebenarnya ibu ya nderedeg, makanya langsung bilang damai, trus pergi. Lampu pecah gampang diganti besok-besok" akunya.
"Nek aku, yo mungkin wes jantungan" sahut Bapak di ujung telepon.
Kami lalu terkekeh bersama.

⋊⋉---ᕘᕚ---⋊⋉ 

Ya, itulah bapak.
Peristiwa "menyesakkan" telah terjadi, namun bapak dengan sigap mampu membuat kami tidak berlarut-larut dalam pusaran emosi negatif. Pun selalu mengambil hikmah setelahnya. Seperti hari ini. Bapak memilih untuk menemani perjalanan ibu membelah kawasan ladang garam yang terbentang antara pinggiran kota Gresik - Surabaya.


Reactions:

Tulisan lainnya:

0 comments