Pengalaman belajar KREATIVITAS di IIP

05 November

Minggu, 29 Oktober 2017, fasil kelas Bunda Sayang #1 Depok membagikan sebuah e-book bertema kreativitas. Dengan pengantar berupa instruksi untuk dikunyah, terus terang ini kali pertama saya mendapatkan e-book di ruang kelas IIP yang tidak ber-sumber bacaan. Kaget, adalah reaksi pertama saya.

Perhatikan apa yang dikatakan orang, jangan memperhatikan siapa yang mengatakannya - Ali bin Abi Thalib.
Sebuah pesan kepada kita agar dalam usaha mencari kebenaran, hendaknya memusatkan perhatian kepada substansi kebenaran, bukan kepada siapa yang mengucapkan.
Menurut Nurkholis Madjid dalam bukunya yang berjudul Pintu-Pintu Menuju Tuhan, inti pesan diatas adalah obyektivitas dalam memahami persoalan. Obyektivitas merupakan suatu keharusan, dan dianggap sebagai salah satu etika keilmuan yang paling penting. Sebab, dalam wawasan keilmiahan, apalah gunanya suatu garapan yang "subyektif", yaitu garapan seperti pemahaman, pembahasan, penilaian dan lain-lain yang lebih banyak diwarnai oleh pendapat pribadi.
Berusaha untuk obyektif dalam setiap sikap adalah dimensi esensial nilai kejujuran dan keadilan.

Dalam konteks sosial, sikap sepenuhnya "obyektif" adalah hampir mustahil. Namun, usaha untuk mencapai obyektivitas dapat dikaitkan dengan usaha memerangi "hawa nafsu", yaitu mencegah jangan sampai pribadi "mendikte" persepsi kita tentang apa yang buruk, benar dan salah.

Belum selesai rasa penasaran saya, sayangnya hingga detik saat tulisan ini diterbitkan, saya masih belum menemukan sumber bacaan dari e-book pengantar kreativitas buatan Kreshna Aditya tersebut (saya sih berusaha positif thinking, bahwa e-book tersebut dibagikan sudah dengan seijin penulis).

⋊⋉---ᕘᕚ---⋊⋉

Ketika diskusi mengenai kreativitas dimulai, rupanya ada yang berbeda. Yang sebelumnya menggunakan tulisan, kali ini diselipkan pesan-pesan dalam bentuk visual (gambar) serta ajakan untuk menjawab tantangan.
Siapa, sih yang ga suka diajak ikut main game?
Rasanya hampir mustahil ajakan nge-game ini ditolak..
Namun sayangnya, meskipun ingin sekali saya ikut, saya harus membersamai diskusi di kelas lain.

Kebetulan kelas yang saya bersamai sedang berdiskusi mengenai Komunikasi Produktif.
Yang saya ingat, saat itu ada pertanyaan mengenai hubungan antara menantu dengan mertua. Kurang lebih pertanyaannya:

komunikasi jg tkait dg pnddkn. Jk pnddk rendah, rasanya sulit bkomunikasi. Terlebih jk hal ini hub antara mantu dan mertua. Jk dg tidak “ngobrol” mcegah dr gesekan, apkh tdk apa?

Alih-alih memberikan jawaban yang gamblang, saya mencoba menjawab dengan bertanya.
Silahkan ditanggapi :)
Sumber gambar: Darmawan Aji

Alhamdulillah, rupanya dengan sedikit pantikan visual, kelas jadi lebih "hidup". Diskusi jadi lebih mengalir, dan kelas mampu mendefinisikan secara mandiri komunikasi produktif.


⋊⋉---ᕘᕚ---⋊⋉


Menurut saya pribadi, kreativitas bisa diibaratkan sebagai hasil dari solusi. Dan sebelum berbicara hasil, pondasi awal yang harus dibangun oleh orangtua dan atau pendidik adalah KEMANDIRIAN.

Ibarat rumah, pondasi yang kokoh sangat penting. Pondasi tidak bisa dibanggakan ketika sedang dibangun. Bentuk dan desain rumah-lah yang dipuji dan diiklankan. Tapi ketika ada bencana alam, dan rumah itu masih berdiri tegak dan kokoh, maka barulah orang akan memuji kekuatan pondasinya.

Tanpa kemandirian memegang krayon, anak tidak mungkin berkreasi menghias dinding. Tanpa kemandirian dalam membuat keputusan, anak tidak akan mungkin menggunting dan melipat kertas bekas menjadi sebilah pedang mainan, atau membuat istana pasir, atau bahkan menyusun balok-balok lego menjadi bangunan-bangunan sesuai imajinasinya.

Tanpa kita minta, anak sudah berpikir Out of The Box
Mereka sudah kreatif sejak lahir!

Ya, saya sepakat dengan tulisan Bukik Setiawan, bahwa belajar bukan menanamkan pengetahuan, tetapi menumbuhkan potensi anak, karena sejak lahir, anak telah dianugerahi kemampuan belajar.


Akhir kata, sebagai penutup, saya ingin mengutip landasan kreativitas yang juga tidak kalah penting:
Hendaklah yang menimbulkan keinginan menuntut ilmu itu KERIDHAAN Allah Swt. Sebab dengan ilmu yang luas itulah dapat mengenal Tuhan dan membangun budi pekerti - Buya Hamka -


#kelasbundasayang
#InstitutIbuProfesional
#ThinkCreative


Sumber bacaan
Aji, Darmawan. Kursus Online Hypnoselling. 2017
Hamka, Buya. Lembaga Hidup. Ed. Muh Iqbal Santosa. Jakarta, 2015. Republika Penerbit.
Madjid, Nurcholish. Pintu-Pintu Menuju Tuhan. Ed. Elza Peldi Taher. Jakarta, 1999. Paramadina.
Setiawan, Bukik. Anak Bukan Kertas Kosong. Jakarta 2015. PandaMedia


Reactions:

Tulisan lainnya:

0 comments