Kemandirian Anak, Obsesi Siapa?

23 Desember


Saya termasuk orang yang beruntung. 10 bulan yang lalu, ketika materi Melatih Kemandirian Anak dibagikan di kelas bunda sayang, saya tidak menggegas anak-anak untuk memenuhi standar impian saya. Yodha dan Damar, dengan kesadaran penuh, menikmati proses "installing" kebiasaan baru sesuai kemampuan mereka.
Dan hingga kinipun, kami masih terus berproses bersama.

Pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada di anak, agar mereka sebagaimana manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya (Ki Hadjar Dewantara)

Seringkali, dengan meluruskan niat awal, proses selanjutnya akan semakin ringan dijalani. Dengan menjernihkan bagian hulu, maka aliran air sampai ke hilir juga akan terjaga kejernihannya.
Saat akan melatih kemandirian anak, nawaitu-nya dibenarkan dulu. Innamal a'malu binniyat. Tiap tiap amal tergantung niatnya. Dan ketika mengaplikasikan proses kemandirian untuk anak, Islam adalah hulunya, adalah muasalnya. Bukan hilirnya, bukan packaging nya. Kemandirian yang direncanakan sesuai usia anak dan dirancang sebagai perwujudan ibadah akan menuntun kodrat anak bertumbuh menjadi manusia yang selamat dan bahagia.

Obsesi pribadi orangtua yang terselip dalam niat, seringkali menghasilkan kekecewaan dalam menjalani proses melatih kemandirian anak. Takkan ada ruang untuk memasukkan pertimbangan keunikan dan suara hati anak.

Hasil dan checklist hanyalah akibat. Bukan hal yang perlu dikejar.



Sumber Bacaan
http://cerita.maharku.com/2017/03/melatih-kemandirian-anak-untuk-apa.html
Setiawan, Bukik. Anak Bukan Kertas Kosong



Reactions:

Tulisan lainnya:

0 comments