Kita Perlu Ngobrol

02 Desember


Hal menarik yang bisa saya simpulkan dari kebersamaan berdiskusi dengan peserta kelas Bunda Sayang #3 Internasional dan dari percakapan sehari-hari bersama pasangan saya adalah: kami semua adalah manusia dewasa. Kami memiliki latar belakang yang berbeda, memiliki pengalaman dan pengetahuan berbeda, dan kami semua, sejatinya, ingin dipahami.

Masalahnya adalah, bagaimana kami mengkomunikasikan apa yang ada di dalam pikiran, dan memaknai pengalaman orang lain. Materi Komunikasi Produktif yang disampaikan di kelas Bunda Sayang ini memang tidak lekang oleh waktu.


⋊⋉---ᕘᕚ---⋊⋉

Berbicara mengenai "ingin dipahami" pasangan, satu hal yang saya lupa selama ini, yaitu memahami bahasa cinta. Di Review Ketiga Tantangan Level 1, dikupas cara berkomunikasi sesuai bahasa cinta anak. Beberapa waktu lalu, saya berhasil menemukan bahasa cinta kedua anak saya. Kali ini, saya ikut menelaah, bahasa cinta apakah yang dimiliki suami.

Menurut Gary Champan & Ross Campbell, MD, dalam buku mereka yang bertajuk The Five Love Languages of Children, terdapat 5 cara manusia memahami dan mengekspresikan cinta, yakni; Sentuhan Fisik, Kata-kata Mendukung, Waktu Bersama, Pemberian Hadiah, dan Pelayanan.

Ketika berkomunikasi dengan orang dewasa lain, maka awali dengan kesadaran bahwa “aku dan kamu” adalah 2 individu yang berbeda dan terima hal itu. Karena kami sudah termasuk kategori manusia dewasa, maka saya menggunakan kaidah Clear and Clarify disaat kami sedang senggang. Hasilnya, rupanya saya baru mengetahui, bahwa suami lebih dominan memiliki bahasa cinta tertentu yang berbeda dengan bahasa cinta saya. Hal tersebut (kembali) menyadarkan saya, bahwa yang saya rasakan belum tentu beliau rasakan. Meskipun selama ini saya memperlakukan beliau sesuai bahasa cinta saya, tapi saya belajar, bahwa lebih efektif bila beliau diperlakukan sesuai bahasa cintanya.

Menuntut pasangan untuk mengetahui bagaimana seharusnya ia memperlakukan saya, terasa romantis, tapi rasanya tidak realistis. Dan bahkan mungkin tidak adil untuk mengharapkan sesuatu dari pasangan jika saya tidak mau mengatakan kepadanya secara gamblang, seperti apa saya ingin dihargai.

⋊⋉---ᕘᕚ---⋊⋉

Lain halnya dalam berdiskusi di ruang kelas "maya" bersama para bunda pembelajar. Bahasa verbal, kaidah 7-38-55 (kata-kata 7%, intonasi suara 38% dan bahasa tubuh 55%), apalagi kaidah Intensity of Eye Contact, jelas tidak mempan diterapkan disini.

Hanya satu kesamaan, kami semua adalah manusia dewasa yang ingin dipahami. 

Lalu apa solusinya? The Power of Question. Nesri Baidani, dalam diskusi kulwhap bulan November lalu menyatakan bahwa bertanya adalah alat yang mumpuni untuk menggali pertanyaan. Galilah pertanyaan untuk lebih mengenali jenis jawaban yang mereka butuhkan.

Ketika ada pertanyaan dari peserta kelas Bunda Sayang, yang saya lakukan adalah bertanya dan fokus pada penanya. Saya bertanya pada diri saya sendiri terlebih dahulu. Bagaimana bila pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang saya tanyakan. Saya mencoba fokus pada keadaan penanya, apa pemicu penanya menanyakan hal tersebut? Tidak tahu, mempertanyakan, atau sekedar membutuhkan penguatan?
Pertanyaan yang memang membutuhkan jawaban teknis, akan saya jawab. Sementara pertanyaan yang membutuhkan penguatan, saya berikan wewenang kepada peserta kelas untuk saling menguatkan.

⋊⋉---ᕘᕚ---⋊⋉

Kemampuan memahami orang adalah salah satu aset terbesar yang dimiliki seseorang. Kesalahan terbesar dalam berkomunikasi adalah memprioritaskan "ke-aku-an" pada pengungkapan jawaban (baik secara tertulis maupun secara lisan). Sosiolog Charles Derber menggambarkan kecenderungan ini untuk memasukkan "diri sendiri" ke dalam percakapan sebagai "narsisme percakapan." Keinginan untuk mengambil alih percakapan, melakukan sebagian besar pembicaraan, dan mengalihkan fokus kepada diri Anda sendiri. Hal ini seringkali halus dan tidak disadari.

Didengarkan, dihargai dan dimengerti. Hanya itulah yang dibutuhkan.

One of the best ways to persuade others is with your ears, by listening to them.
~ Dean Rusk


sumber bacaan:
  • BERKOMUNIKASI SESUAI BAHASA CINTA ANAK - Review Komunikasi Produktif Bagian Ketiga. Materi Kelas Bunda Sayang sesi #1. Institut Ibu Profesional.
  • Komunikasi Produktif - Materi Kelas Bunda Sayang sesi #1. Institut Ibu Profesional
  • Diskusi WAG Materi Review Materi Komunikasi Produktif Kelas Bunsay Batch #3 Internasional, November 2017
  • http://www.5lovelanguages.com/
  • Diskusi Kulwap The Power Of Question bersama Nesri Baidani, November 2017
  • https://www.thriveglobal.com/stories/16521-what-to-say-instead-of-i-know-how-you-feel-to-someone-who-is-struggling


Reactions:

Tulisan lainnya:

0 comments