Ekspedisi Gen Keluarga

31 Januari


"bun, aku mau magang jadi guru matematika bisa ga ya?" tanya Yodha - 9 tahun 2 bulan. Sontak saya meliriknya - karena saat itu saya masih menyetir - untuk melihat raut mukanya. Rupanya ia serius, karena pertanyaan selanjutnya adalah "kira-kira dimana ya aku bisa diterima magang?". Seandainya tangan saya bisa saya gunakan, mungkin akan saya gunakan detik itu juga untuk menggaruk kepala saya yang tidak gatal. "ngg.. dimana ya mas?" tanya saya balik. Beneran, karena memang saya tidak tahu. "coba nanti bunda cari tau info dari teman bunda. Atau mungkin nanti kita bisa tanya ayah, siapa tau ayah tau" jawab saya, ngeles.

Dalam hati, saya bertanya-tanya, nih cerita awalnya gimana sih, kok tiba-tiba Yodha ingin jadi guru..

Sesampainya di rumah, saya coba tanya ulang keinginan Yodha. "Iya bun, aku mau coba jadi guru. Soalnya sepertinya gampang ngajarin matematika untuk anak kelas 1 SD." ucapnya sambil melirik Damar (yang saat ini duduk di bangku sekolah dasar kelas satu). "Pasti bisa kok bun, kan moyangku banyak yang jadi guru juga" imbuhnya, yakin.

--

Jadi ceritanya, beberapa hari sebelumnya, kami mendapat "jatah" seat untuk ikut bersenang-senang di PERAK 2018. Dan tantangan pertamanya sungguh menggelitik: menjelajah silsilah keluarga.
Suami langsung menyambut dengan antusias. Beliau tidak membuang waktu untuk mulai menelepon akung dan uti. Yodha dan Damar? Mereka juga bersemangat mewawancarai akung dan uti via whatsapp. Tak mau kalah, akung dan uti pun bercerita, persis seperti radio yang baru dipencet tombol "on" nya.
Hari berikutnya, giliran akung uti dari pihak saya. Sama seperti kemarin, Yodha Damar semangat bertanya, sementara akung dan utinya, juga tak kalah berapi-api menceritakan nama-nama dan profesi leluhur beliau.

Dialog-dialog yang terjadi, pertanyaan-pertanyaan yang jelas memantik memori masa kecil.. rasa penasaran anak-anak berpadu dengan terbukanya file-file zaman lalu yang tersimpan rapi di benak akung dan uti. Klop.
"hah? ayahnya uti tentara? Tentara beneran yang melawan Belanda? Trus ikut gerilya juga?"
"iya, dulu ayahnya uti ..... "

Ah, dari seberang sini saja, saya bisa merasakan percikan emosi positif yang mengalir bersama kalimat yang terucap melalui udara tak berkabel. 
:)



Setelah puas menginterogasi kedua pasang akung uti, kami mulai membaca bersama hasil wawancara via telepon. Meskipun kami hanya berhasil mendapat cerita hingga moyang ke-4 (Eyang Canggah) dari keluarga suami dan moyang ke-6 (Eyang Udeg-Udeg) dari keluarga saya, kami bisa melihat dominasi profesi moyang kami. Rupanya hampir sebagian besar keluarga kami (saya dan suami) berprofesi sebagai pendidik atau sangat dekat dengan dunia belajar mengajar. Urutan kedua adalah pegawai negeri, kepala desa, disusul oleh profesi pedagang dan profesi petani. Profesi unik yang hanya satu yang kami temukan adalah tukang cukur, tukang gambar, penghulu, dan tentara.

--


Allah sudah menitipkan peran hidup ke masing-masing diri kita dan keluarga kita. Ketika kita sekarang dipertemukan dalam sebuah komunitas, maka artinya kita sedang diberikan ruang untuk melihat potensi kekuatan dari keluarga kita berkolaborasi dengan potensi kekuatan dari keluarga-keluarga yang lain. Sehingga kita paham mengapa kita dipertemukan dengan pasangan kita dan mengapa kita dipertemukan dalam komunitas ini. Masing-masing dari keluarga kita punya peran yang berbeda, karena keluarga kita unik dan berperan penting dalam hidup ini.

#tantangan1
#perak2018
#gen keluarga


Sumber bacaan
Game 1: Ekspedisi Gen Keluarga. WAG Perak 2018


Reactions:

Tulisan lainnya:

0 comments