Peran Ganda Perempuan

17 Januari



Pernahkah ketemu dengan seorang guru perempuan yang sangat galak, dan jarang tersenyum? Saya pernah. Duluuu, sewaktu kuliah, pernah ada seorang dosen yang setiap kali masuk ke kelas hampir tidak pernah menarik bibirnya keatas hingga menyerupai huruf u. Dengan alis yang hampir selalu dikernyitkan, lipstik merah dan eyeshadow yang meskipun tertempel rapi dan sempurna, jadi terlihat mengerikan di mata saya. Pertemuan demi pertemuan perkuliahan bersama bu dosen itu sungguh terasa lama. Meskipun sebenarnya di setiap pertemuan yang hanya berlangsung 30 menit tiap minggu itu, ia sendiri tampak tidak betah berada di depan kelas. Sambil menggumam, ia terus menyajikan slide demi slide OHP materi tanpa melakukan kontak mata dengan kami, para mahasiswa di kelas.

Dahulu, saya terus berpikir, apa mungkin bu dosen ini terganggu dengan kehebohan kami sebagai mahasiswa baru? Atau mungkin karena kami dianggap agak "kurang" dalam memahami materi yang beliau sampaikan? Pertanyaan-pertanyaan itu masih belum terjawab hingga kini.

Tapi, hingga 2 minggu yang lalu, terjawablah pertnayaan-pertanyaan saya.

Tepatnya sampai saat saya "dipaksa" untuk membuat materi presentasi Fitrah Seksualitas. Nah, apa hubungan antara galak dengan fitrah seksualitas?

Hm, jadi begini alurnya. Ketika mengumpulkan materi-materi presentasi, ada beberapa tulisan yang menurut saya merupakan jawaban dari pertanyaan saya berapa tahun lalu.
Fitrah keibuan tergerus 2 hal, yaitu pendidikan yg memberhalakan intelektualitas & peran ganda krn ayah tdk hadir #FBE
Ya, menurut ustadz Harry, rupanya ada 2 penyebab galaknya seorang ibu yang mestinya dipenuhi dengan hormon esterogen, menjadi ibu yang maskulin: pendidikan yang memberhalakan intelektualitas dan peran ganda karena peran ayah tidak hadir.

Mungkin itu sebabnya dosen saya itu masih belum bisa tersenyum dalam arti harfiah.


Sumber bacaan:
https://www.facebook.com/harry.hasan.santosa/posts/10214862380503177


Reactions:

Tulisan lainnya:

0 comments