Joget YOLO dan Profesionalitas

06 Mei


Memang benar apa kata pepatah yang mengatakan bahwa didiklah anak sesuai jamannya, karena kita tidak mungkin hidup di jaman mereka.
Pun yang terjadi saat ini, sungguh saya merasakan banyak sekali perbedaan ketika saya masih kecil (saat lampau), dengan ketika anak-anak saya masih kecil (saat ini). Smartphone merupakan barang yang kini menjadi kebutuhan sehari-hari. Sepaket dengan kuota internet, tentunya. Dampaknya yang saat ini saya rasakan adalah, anak saya menjadi warga global. Apa yang saat ini nge-trend di desa belahan bumi yang lain, cepat juga menjadi trend di sini, di lingkungan sekitar anak saya tinggal.

Terus terang saya kaget, kalau tidak dikata shock, ketika Yodha mulai berjoget menggerakkan badannya miring ke kanan dan ke kiri, sambil menggerakkan tangannya berlawanan arah dengan badannya. Sesekali sambil bergumam " YOLO YOLO". Joget tersebut kerap dilakukannya di dalam rumah ketika ia sedang sendiri, atau ketika di depan saya atau di depan Damar,, meskipun tanpa ada iringan musik. Ketika saya penasaran dan bertanya, joget model apa tuh mas? Ia menjawab: " Joget YOLO YOLO".

Saya masih belum punya nyali untuk bertanya lebih lanjut kepadanya tentang arti YOLO. Dari mana Yodha memiliki pengetahuan tentang joget YOLO, padahal di rumah, ia sangat saya batasi dari pengaruh smartphone dan bahkan televisi ??!!

Sepemahaman saya, YOLO merupakan singkatan dari you only live once. Dan bagi saya, YOLO memiliki arti yang berkonotasi negatif.
Dan memang, apabila dicari di mesin pencari dunia cyber, YOLO pun hingga kini memiliki konotasi negatif yang rasanya tak sanggup saya salin disini.

Mirip seperti yang dilakukan Yodha, siang ini saya melihat dengan mata kepala sendiri. Siswa kelas khusus berbakat di daerah Cibinong, juga berjoget YOLO di lapangan terbuka. Saya yakin, siswa tersebut dididik dengan pendidikan agama yang kuat (di sekolahnya), memiliki orangtua yang mampu secara finansial, dan siswa ini memiliki kemampuan akademis di atas rata-rata kelas (karena ia berada di kelas khusus berbakat).

Tidak pandang bulu, semua anak, baik yang terpapar smartphone maupun yang tidak, mereka sangat familiar dengan joget YOLO dan tidak segan berjoget di depan umum.

Sorenya, -masih di tempat yang sama, di tempat siswa-siswi kelas khusus berbakat matematika dan science menimba ilmu-, ketika adzan Ashar berkumandang, di dalam mushola tampak segerombolan anak asyik bermain game di gawainya tanpa mengindahkan suara adzan dan bahkan mereka cuek saja duduk sementara ruang di depan mereka digunakan sebagai tempat sholat.
Duduk menghadap orang-orang yang sedang bersujud, tanpa rasa kikuk, tetap asyik dengan gawainya...?

Ada apa ini? Apakah saya yang kurang gaul? Dimana rasa rikuh mereka?

Saya merasa saya tidak bisa masuk ke dunia mereka, padahal saat ini kami hidup di satu garis waktu yang sama, 2018 Masehi.



Entah bagaimana nyambungnya, ketika saya hendak meneruskan tulisan ini, ada notifikasi komentar facebook page yang saya kelola, yang intinya adalah pertanyaan bolehkah (penanya berjenis kelamin laki-laki, prediksi dari nama yang digunakan dan foto profilnya) ikut bergabung di komunitas Ibu Profesional?
Notifikasi ini sangat menarik, karena pertama, karena yang bertanya adalah laki-laki, dan yang kedua, penanya berkomentar di post yang diterbitkan 3 Februari 2015 (3 tahun yang lalu)!!
Dan hal menarik yang terakhir adalah isi post tersebut!
Post 3 tahun lalu tersebut mengarahkan saya untuk mengikuti tautan yang disematkan di https://www.slideshare.net/septipeniwulandaniii/ebook-how-to-be-professional-mother.
Ebook yang diunggah oleh bu Septi pada tanggal 18 Juli 2013 tersebut dibuka dengan puisi Kahlil Gibran:

Penggalan puisi diatas mengingatkan kepada kita bahwa tugas orangtua adalah menghantarkan anak-anak untuk siap menemui masa depannya.
Meskipun anak-anak adalah homo ludens (makhluk yang suka bermain), tetapi mendidik mereka tidak bisa "main-main". Butuh keseriusan para orangtua untuk mempersiapkan anak tersebut mencapai gerbang mimpinya. Butuh sikap profesional dalam mendidik mereka.

Ebook tersebut mengingatkan saya, bahwa saya adalah Ibu Profesional.

Kembali ke istilah YOLO, memang benar kita hanya hidup sekali, namun sudah sepantasnyalah sayalah yang mempertanggungjawabkan waktu yang saya gunakan.


Reactions:

Tulisan lainnya:

0 comments