Kenapa Kita Menunda?

20 Mei


Procrastination is a misplaced, emotion-focused coping strategy.

Saat mulai menuliskan tentang "penundaan" saya teringat dengan pelatihan bulan Mei lalu tentang self coaching yang saya tuliskan disini. Saat itu, kami menggunakan metode SCORE (Symptom, Cause, Outcome, Resources, Effect) untuk mengatasi kebiasaan menunda.

Is it work?
Mmm,, kalau boleh terus terang, saya akan menjawab TIDAK.

Saya "stuck" di area Cause. Saya sadar bahwa saat tersebut saya melakukan penundaan. Penyebabnya seringkali rasa malas. Itu saja. Meskipun saya telah melakukan metode SCORE dan mengerti penyebabnya, dampak yang akan terjadi, sumberdaya yang saya miliki, tetap saja saya melakukan penundaan. Saya, dengan kesadaran penuh, melakukan penundaan. Mager, atau malas gerak, kalau ikut istilah yang saat ini sedang trend.

Melakukan penundaan hingga mepet tenggat waktu rasanya seperti menjinakkan bom dalam hitungan detik. Rasanya memang tidak masuk akal, bagaimana bisa, kita (saya) yang sudah memiliki niat baik ternyata masih juga melakukan penundaan.
Saya sudah menetapkan tujuan ... tetapi saya tetap menunda.
Saya menulis daftar hal yang harus dilakukan ... tetapi kemudian saya hanya melihatnya sekilas dan tidak menindaklanjuti semua itu.
Tidak peduli betapa keras perjuangan saya untuk mengatur waktu, atau bahkan melakukan semacam self-talk "Saya selalu mengerjakan tepat waktu", ternyata terus saja terjatuh di perangkap yang sama berulang-ulang kali :(

Pada titik tersebut, saya mulai memahami, bahwa penundaan yang saya lakukan merupakan mekanisme untuk menghindari hal-hal yang berpotensi membuat saya tidak nyaman.

Semakin kesini, saya mulai memperhatikan, bahwa menunda pekerjaan atau tanggung jawab -yang saya lakukan selama ini- adalah salah satu bentuk mekanisme mengatasi emosi saya.
Beberapa tugas (dan atau tanggung jawab) rupanya memiliki reaksi emosional negatif bagi diri saya. Secara otomatis, saya menunda-nunda untuk menghindari tugas yang saya rasakan menyebabkan emosi negatif (atau setidaknya terkait dengan emosi negatif)

Persis seperti kutipan di awal, penundaan merupakan strategi mekanisme berbasis emosi yang salah tempat.

Penundaan bukan merupakan tanda kemalasan.

Beberapa tips menyarankan untuk segera berbuat. "Take action".
Bagi saya, kalimat tersebut tersebut kadang manjur, tapi seringnya, hanya sekedar saran yang numpang lewat doang. Tidak saya laksanakan.
Parah ya?
Rupanya, bagi saya, penundaan merupakan tantangan dalam manajemen EMOSI, bukan manajemen waktu.
Pada intinya, saya melakukan penundaan untuk membuat diri saya bahagia!
Saya mungkin bisa memprediksi, hari ini akan melakukan apa, pukul berapa harus kemana, dan lain sebagainya. Tapi kenyataannya, saya tidak bisa memprediksi EMOSI saya satu jam yang akan datang! Emosi adalah tentang disini dan sekarang. Saat ini juga.
Bahagia? Sedih? Atau tertekan?

Setidaknya, saat ini, saya berhasil mengurai penyebab kenapa saya melakukan penundaan.
1. Bosan
2. Bingung
3. Kelelahan
4. Takut

Hal pertama untuk mengalahkan penundaan adalah mengakui bahwa penundaan tersebut disebabkan karena stress. Maafkanlah diri sendiri terlebih dahulu :). Dengan memaafkan, saya jadi ikhlas menerima diri saya. Mungkin itu juga sebabnya kenapa umat muslim disarankan untuk memulai berdoa dengan memohon ampunan Allah SWT.

Kemudian berdoa untuk mengatasi kecemasan:
بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
للَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ


Allahumma inni a'udzubika minal hammi wal hazan, wa a'udzubika minal ‘ajzi wal kasal, wa a'udzubika minal jubni wal buhkl, wa a'udzubika min ghalabatid-daini wa qahrir-rijaal

“Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari rasa sesak dada dan gelisah, dan aku berlindung pada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, dan aku berlindung pada-Mu dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung pada-Mu dari belenggu hutang dan tekanan manusia”


Sumber bacaan:
http://intidoa.blogspot.co.id/2015/06/doa-terhindar-dari-hutang-yang-melilit.html
http://www.chillpill.io/procrastination-5-emotions/


Reactions:

Tulisan lainnya:

0 comments