Keseruan Berbagi dan Melayani

26 Mei


Pagi ini tim Sejuta Cinta Ibu Profesional Depok menggelar Garage Sale: Bazar Murah Dan Barang Bekas Berkualitas. Saya, yang memang tidak memprioritaskan memilih baju bekas layak pakai selama periode pengumpulan, tidak menyempatkan diri beres-beres melaksanakan konmari barang di rumah. Saya memang sedari awal memilih menyumbang tenaga saja di hari H.

Begitu tiba di lokasi, saya sangat menyesal.. seandainya ada tambahan waktu pengumpulan barang bekas.. Seandainya saya menyempatkan diri memilih barang bekas layak guna di rumah saya🙈
Saya melihat besarnya antusiasme para pembeli. Mereka, para pembeli, bahkan hampir sebagian besar tidak menyentuh gamis-gamis cantik yang harganya Rp 25.000an 😢. Kebanyakan dari mereka hanya melihat saja tanpa membawanya ke meja kasir. Harga Rp 25.000 saja tidak mereka sentuh, apalagi kain macam songket yang dibanderol dengan harga Rp 50.000 per helainya. Ah, sedih rasanya.
Seandainya saya memprioritaskan menyortir baju bekas layak pakai. Seandainya saja saya bisa memutar waktu. Dan sederet daftar perumpamaan lainnya terus bermunculan di kepala saya.
Hal seperti ini tidak hanya terjadi sekali, namun sangat sering terjadi di kehidupan sehari-hari (saya). Penyebabnya adalah karena saya gagal. Saya gagal melihat tujuan akhirnya. Saya tidak membayangkan bahwa mereka, kaum dhuafa, lebih memilih barang seharga Rp 2.000 untuk mereka kenakan.

Saya -saat itu- tidak mampu melihat big-picture nya.
Tanpa kemampuan melihat big-picture, saya tidak bisa membuat #kompaswaktu. Ketika seseorang sadar, tulus dan mengingat bigger picture of life dan kehidupan setelah mati, akan lebih mudah untuk membuat keputusan yang tepat di tempat kerja dan dalam kehidupan sehari-hari.

Jauh hari sebelum hari ini, Islam telah mengajarkan kita (saya) untuk memperlakukan akhirat seolah-olah itu terjadi besok. Memperlakukan hari ini seperti hari terakhir hidup. Jika ini adalah post terakhir saya, pertemuan terakhir saya, terakhir kali saya bisa membantu orang lain, terakhir kali saya memeluk anak-anak saya, terakhir kali saya berdoa.. maka warisan apa yang akan saya tinggalkan...?

Dari segi produktivitas dan perencanaan hidup, ini seharusnya memastikan bahwa saya mengelola waktu saya dengan benar untuk alasan yang benar, tidak hanya berfokus pada menjadi efektif tanpa makna atau tujuan yang lebih besar.
Mengingat tujuan akhir menempatkan hal-hal dalam perspektif dan membantu saya membuat langkah yang paling sesuai setiap langkah.


Terus terang, sedih hati ini ketika melihat daya beli para pengunjung Bazar. Di lain sisi, saya merasa bangga bercampur iri dengan kesungguhan para donatur dan para mak panitia yang all-out, baik dalam menyumbang barang yang kualitasnya masih sangat bagus maupun menyumbang tenaga menjadi penjaga stand yang sangat ramah meskipun matahari di bulan Ramadhan ini sangat menyengat. Bahkan ada yang donatur yang mengirimkan barang baru dengan price tag yang masih tertempel.

Bangga saya, mak.

Para Ibu Profesional telah mengkristalisasi Pedoman Perilaku: berbagi dan melayani.

Terkait dengan konsep sedekah di dalam bulan suci Ramadhan, saya sepertinya sudah harus membuat jadwal agenda untuk berdonasi. Kutipan dari productive muslim:
Remember, Ramadan is a process. Embrace the process of Ramadan instead of expecting significant changes to happen overnight. Every prayer you make, every verse you recite, every charity you give, and every smile you give, you're building the capacity for lasting transformative change for many months after Ramadan. Keep going :) - productivemuslim.com
Bismillah

#RuangBerkaryaIbu
#IbuProfesional
#MandiriBerkaryaPercayaDiriTercipta
#KenaliPotensimuCiptakanRuangBerkaryamu
#Proyek2RBI
#Day15


Reactions:

Tulisan lainnya:

0 comments