Niche yang Kece

13 Mei

Kalau melihat instagram saya, #tutupmata...
Tidak terkelola dengan baik.


Ada masa dimana saya sedang suka mengunggah foto anak-anak saya. Lalu tiba masa saya suka mengunggah foto kucing saya yang bernama Ying (tulisan khusus yang mengulas Ying bisa dibaca disini). Kemudian, saya menjadikan instagram sebagai tempat untuk menyetorkan tantangan 10 hari game di Bunda Sayang.
Tidak konsisten, saya kembali menjadikan Ying sebagai obyek kamera amatiran saya plus ditambah brush-lettering ala-ala yang idenya dadakan pagi harinya tanpa perencanaan. Jadilah proyek brush-lettering versi Ying menyita banyak sekali waktu, mulai dari ide, proses tulis-menulis huruf kriting, belum lagi sesi pemotretan bersama Ying yang mesti diambil gambarnya dengan beragam posisi yang tidak terbayangkan dan menguras keringat. Belum selesai sampai disitu, masih ada proses pemilihan gambar, editing foto, dan penulisan caption. Fyuh! Itu sebabnya brush-lettering Ying tidak bertahan lama.
Hingga kemudian saya beralih ke kegiatan kemping. Kemping, menurut saya, merupakan pengalaman yang sangat membahagiakan :) Hanya saja, terhenti ketika Yodha lolos seleksi belajar di kelas khusus berbakat setiap hari Sabtu di wilayah Cibinong, Bogor. Kami jadi tidak memiliki waktu untuk kemping :( Its okay, saya -dan suami, dan anak-anak- sadar, bahwa semua ada harga yang harus dibayar. Bagi kami, Yodha bahagia menimba ilmu, adalah kebahagiaan kami juga.

Move on dari foto-foto kemping, sejak Juli saya sudah mulai tertarik mengabadikan proses saya mengatur waktu menggunakan planner. Dari yang cupu, hingga yang terakhir, saya -ternyata- terobsesi dengan habit tracker yang berbentuk rumit. Semakin rumit, semakin banyak warna, semakin saya tertantang untuk menyelesaikan to-do list yang saya tulis di tracker tersebut.

Jadi sebenarnya apa sih yang ingin saya tonjolkan untuk personal branding diri saya?

Sebenarnya, dari segi profesionalitas, baik tips dari pakar penjualan hingga pakar perbloggingan, semua menyarankan untuk fokus. Fokus pada satu produk saja -kalau jualan-, karena content is a king -bila di dunia menulis kreatif. Eksis di sosmed tidak diharamkan, tapi sebaiknya, berbagilah sesuai dengan fokus, sesuai dengan personal branding.

Benar, bahwa kita tidak menulis untuk semua orang. Yang menjadi pertanyaan adalah, siapa target spesifik tulisan kita?

Sebelum menjawab pertanyaan diatas,, kalau kata Abah Rama Royani di bukunya yang berjudul Talents Mapping, buatlah BAKAT yang dimiliki menjadi SOLUSI dalam menghadapi masalah. Jadi, pertanyaan yang lebih "inside-out" adalah: apa solusi yang bisa saya tawarkan untuk dunia?

Ketika berbicara solusi, ada 2 hal yang terlintas di kepala saya. Satu adalah proyek saya di komunitas yang tujuan awalnya hanya untuk menciptakan ruang berbagi yang hangat antar member, sekarang mulai memiliki tujuan akhir lain, yaitu dicetak dan dipublikasikan dalam bentuk buku. Menantang, tapi ini adalah kali pertama saya mencoba menerbitkan buku.. Dan prosesnya, saya yakin membutuhkan waktu lebih dari tiga bulan dengan sumber daya manusia yang juga luar biasa.

Solusi kedua adalah membantu orang lain yang mengalami kebosanan dalam mengerjakan rutinitas harian untuk merasa "tertantang" menyelesaikan pekerjaan yang sifatnya tidak perlu berpikir. Misalnya mencuci, membersihkan dapur, dan pekerjaan semacam itu. Karena remehnya, tipe pekerjaan yang "membosankan" tersebut seringkali ditunda, sehingga ketika lewat dari beberapa hari, mulailah pekerjaan membosankan yang tidak penting tersebut berubah menjadi pekerjaan yang penting dan harus diselesaikan saat itu juga.

Dari kedua proyek yang terlintas, saya lebih condong memilih proyek kedua, dimana saya sepenuhnya tidak bergantung pada orang lain. Saya memilih untuk mengusung "Kompas Waktu" sebagai niche saya minimal 3 bulan kedepan

Bismillah

#RuangBerkaryaIbu
#Ibu Profesional
#MandiriBerkaryaPercayaDiriTercipta
#KenaliPotensimuCiptakanRuangBerkaryamu
#Proyek2RBI
#Day1

Sumber bacaan:
Royani, Abah Rama. Talents Mapping. Inspirasi Untuk Hidup Lebih Asyik dan Bermakna. ToscaBook. Depok, 2016


Reactions:

Tulisan lainnya:

0 comments