Momen Kumpul Keluarga

30 Juni

Alhamdulillah, tahun ini kami masih dimudahkan, baik dari rejeki, kesehatan dan juga waktu untuk melakukan perjalanan mudik.


Lebaran, bagi saya, adalah momen untuk berkumpul bersama keluarga besar. Ngumpulke balung pisah, istilah Jawa untuk merekatkan kembali keluarga yang sudah terpisahkan baik oleh waktu, jarak maupun kondisi yang berbeda. Momen yang tepat untuk mengenalkan anak-anak saya, tentang sejarah keluarga, saudara-saudara misan yang berasal dari satu nenek, dan juga saudara mindo yang berasal dari satu buyut. Kalau bagi Yodha-Damar, levelnya sudah disebut canggah.

Hingga lebaran tahun ini, saya baru menyadari bila saya termasuk orang yang beruntung. Saya berasal dari keluarga yang sebagian besar menganut prinsip monogami. Bukan berarti saya tidak menyetujui pilihan beberapa kawan ataupun kerabat yang berpoligami atau memutuskan untuk menikah lagi, bukan. Hanya saja, saya merasa bahwa keluarga monogami lebih erat persaudaraannya.

--

Lewat dari tahun kesepuluh pernikahan saya dengan suami, setiap 2 tahun sekali, saya hampir selalu mengajak suami untuk ikut pertemuan keluarga besar dari pihak nenek dari bapak saya di hari ketiga lebaran. Kurang lebih 5 kali, kami, mulai dari belum memiliki anak, hingga membawa 2 orang anak, menyempatkan diri untuk melakukan perjalanan ke tengah. Keluarga Besar Poernosoehardjan, begitu kami menyebutnya. Keluarga besar yang diangkat dari nama buyut Kakung dan buyut Putri saya.

Sejujurnya, baru tahun ini, saya mulai berani mempertanyakan kepada suami, kapan saya dikenalkan ke keluarga besarnya? Karena sejak kami menikah, belum pernah satu kali pun saya dan anak-anak diajak mengikuti pertemuan keluarga besar, baik dari pihak nenek maupun kakek suami saya.
Dari situlah, saya baru "ngeh" dan memahami silsilah keluarga suami saya. Ayah mertua saya rupanya memiliki 3 saudara yang berbeda ayah, ada yang beda ibu. Dan ternyata, ibu mertua saya juga memiliki 6 saudara berbeda ayah-ibu pula. Beda ayah beda ibu tersebut, pada akhirnya membuat pertemuan keluarga menjadi canggung. Mulai dari penamaan whatsapp grup yang akhirnya dibuat general: Keluarga Besar Semarang, karena tidak bernasab sama. Hingga isi grup -yang masa kecil pesertanya- tidak seragam. Bagi saya, yang berstatus "mantu" atau outsider, saya tidak melihat adanya "pengikat kenangan" yang membekas di dalam hati peserta whatsapp grup keluarga besar suami saya.

Lalu bagaimana dengan anak-anak saya? Rupanya bagi mereka berdua, keluarga besar maupun kecil, sama menyenangkannya :)

Mereka, terlihat tidak begitu menikmati pertemuan yang terlalu "besar" seperti di pertemuan yang video-nya yang saya lampirkan diatas, selain karena sifatnya formal, mereka juga tidak bisa bermain dengan bebas. Mereka bertahan karena makanan yang berlimpah :D
Damar, selain karena makanan, bertahan karena ia sedang menjalani misinya untuk mengabadikan momen, alias jadi juru potret :).


Sementara, Yodha, asyik dengan mainan barunya, Yoyo.

Yodha dan Damar, layaknya anak-anak, lebih menikmati kebersamaan dalam lingkup yang lebih kecil dan informal. Mereka lebih bahagia ketika jalan-jalan naik dokar mengunjungi keraton Solo bersama saudara sepupunya, dan juga ketika menangkap kucing di rumah eyang Drajat (adik Ibu saya) di Semarang.



Berfoto di kediaman adik ibu saya (eyang Drajat) di Semarang.

Sebelum ke Solo, kami menghabiskan waktu yang sangat menyenangkan di Blora. Kebetulan ayah mertua saya memiliki kolam yang hanya setinggi betis di bagian dalam rumah. Tepatnya berada di ruang TV, persis di belakang lokasi kami berfoto.

Keluarga Blora
Kolam itu diisi dengan ikan lele, yang langsung dipancing oleh cucu-cucunya menggunakan baskom :D. Jelas saja semua jadi basah, mulai dari badan keempat cucu hingga lantai ruangan sekitar kolam. Hahaha,, anak-anak senang, sementara orangtuanya (khususnya saya) campur aduk antara dongkol, geli melihat polah mereka, dan pegel bersih-bersihnya.

--

Memang, tidak ada yang sempurna, tapi dari ketidaksempurnaan itulah semuanya menjadi sempurna (bagi saya). Monogami ataupun poligami, menikah lagi atau tidak, adalah pilihan masing-masing individu, yang bukan ranah saya untuk mencampuri. Pada akhirnya, merawat silahturahim, meskipun kini kita sudah berada di jaman tak berdinding, rupanya tak serta-merta menjadikannya semudah membalikkan telapak tangan.


Reactions:

Tulisan lainnya:

0 comments