Nikah Seharga Tiket Bioskop

12 Juni


"Eeh, jangan pegang-pegang adekku" teriak Lisa, gadis berumur dua tahun yang kala itu sedang ikut ibunya bekerja. Segera ia menepis tangan Damar dari kepala adeknya dan membawa boneka bayi yang ia sebut 'adek' menjauh dari tangan Damar. Ibunya yang masih sibuk mengepel lantai ruang tamu tidak memperhatikan polah Lisa yang saat itu sedang membelai kepala 'adek'nya yang plontos dengan lembut.

Sambil mengupas kunir, saya mengawasi polah mereka dari dapur. Terus terang saya agak terkejut dengan sebutan 'adek'. Sepintas saya pikir Lisa, ketika menyebut kata adek, adalah merujuk kepada bayi manusia. Bayi betulan yang saat ini masih berupa janin di dalam perut ibunya.


--

Pertengahan Januari.
"Bu, saya ijin ga masuk kerja ya. Lisa sakit panas" demikian kurang lebih pesan whatsapp pagi itu yang masuk ke telepon pintar saya dari ibunya Lisa. Hhh.. ini pesan yang sebenarnya tidak saya ingin terima di pagi ini. Entah sudah berapa kali pesan whatsapp serupa dan senada muncul selama beberapa minggu terakhir. Embahnya Lisa sakit dan harus diantar ke puskesmas-lah, atau mesti anterin Lisa jalan-jalan bareng sekolah PAUD-nya lah, dan entah alasan lain yang saya sampai ngga ingat.
"Ya mba, semoga cepat sembuh" balas saya, standar. Datar tanpa emotikon.

Saya lanjut menyiapkan bekal untuk anak-anak saya, mengantar mereka ke sekolah, dan kemudian belanja di tukang sayur.
Melengkapi kegalauan saya pagi itu, tidak seperti biasanya, tukang sayur langganan tidak menggelar lapaknya. Ikut istirahat pula rupanya :(
Lanjut melipir menyeberang jembatan, saya meneruskan perjalanan mencari bahan makanan ke tempat lain. Di tepi sungai seberang jembatan, rupanya tukang sayur yang biasa mangkal disana ramai dipadati ibu-ibu berdaster. Beberapa diantaranya memilih sayur, ada pula yang sudah tidak sabar menanti antrian untuk bayar.
Sambil mengambil buah, saya berjalan mencari lele terlebih dahulu. Makanan favorit anak saya. Setelah menyampaikan request saya untuk memisahkan kepala lele ke asisten tukang sayur tersebut, pundak saya ditepuk halus.
Spontan saya menoleh.
"Eh, bu Retno,, apa kabarnya bu?" sapa saya setengah kaget campur senang, dan sudah melupakan kegalauan pagi tadi.
"Alhamdulillah baik mba" jawabnya sambil tersenyum hangat, memamerkan giginya yang kecil-kecil berderet rapi dan berwarna agak kekuningan karena kebiasaannya minum teh.
"Ibunya Lisa hari ini kerja ngga?" tanyanya.
"Loh, ibu kok tau kalau ibunya Lisa kerja di saya?" tanya saya mengabaikan pertanyaannya. Bu Retno adalah tetangga saya yang rupanya tidak sengaja sering saya temui ketika mengantarkan putranya mengikuti les Kumon di Ruko depan perumahan.
"Iyalah, kan ibunya Lisa cerita kalau kerja di rumah mba Asti. Dia juga kerja di rumah saya, mba" jawabnya sambil tertawa kecil.
"owalaah.. ternyata begitu.." gumam saya, terkekeh.
"Hari ini ibunya Lisa ijin ga masuk bu" lanjut saya menjawab pertanyaan pertamanya.
"Iya nih, sama mba,, sudah berapa hari ini ibunya Lisa juga ijin ga masuk di tempat saya." keluhnya.
"Laah, kok sama ya.. kupikir dia kerja dulu sebentar di tempat ibu pagi. Kan saya kebagian siangnya" jawab saya.
"Loh, mba Asti belum diceritain sama teh Iroh? Itu lo, yang dagang gorengan di pasar sebelah sana..."
Belum sempat saya menjawab pertanyaan bu Retno, ia kembali melanjutkan kalimatnya:
"Denger-denger - dari teh Iroh sih, ibunya Lisa kemaren kelabakan cari tempat beli test-pack di Malela."

"Haah???" Untuk sesaat saya tidak sanggup bicara saking kagetnya.

"Iya mba, ibunya Lisa, kata teh Iroh, abis nikah sama pacarnya yang kenalannya lewat fesbuk. Trus karena suami barunya ternyata pengangguran, akhirnya ga sampai sebulan, mereka cerai."

Kelu rasanya lidah ini. Tidak sanggup saya membombardir bu Retno dengan pertanyaan-pertanyaan yang tetiba bermunculan di kepala.

"Terus ibunya Lisa hamil sama siapa?" pertanyaan yang akhirnya terucap juga dari mulut saya.

"Nah, itu yang jadi pertanyaan. Soalnya sudah lama mereka cerainya. Mantan suaminya sudah ga di kontrakannya Lisa lagi sekitar dua bulan lalu. Tapi akhir-akhir ini ibunya Lisa sering main ke tempat mantannya di daerah Pasar Minggu tiap sore. Di tempat mba Asti, ibunya Lisa sering absen ga?"

"Iya bu. Akhir-akhir ini sering ga masuknya. Seminggu pasti ada beberapa hari yang absen" keluh saya.

"Nah, sama. Itu kata teh Iroh, ibunya Lisa kalau sore berangkat ke Pasar Minggu, biasanya suka nginep."

"Ooh, gitu ya bu. Ibunya Lisa ga pernah cerita sama saya tentang kehidupan pribadinya sih. Saya juga kebetulan ga begitu suka ikut campur. Kalau benar kemaren ibunya Lisa cari testpack, berarti sekitar puasa perutnya udah besar dong bu" jawab saya sambil menganalisa.

"Iya mba, kita lihat aja nanti bulan Ramadhan." sahut bu Retno, percaya diri.

--


Iya, benar cerita bu Retno.
Ibunya Lisa saat ini sedang hamil. Kehamilannya kali ini tanpa status yang jelas. Entah siapa yang jadi bapaknya. Janda-cerai anak satu yang sedang bekerja dari rumah ke rumah menawarkan tenaganya untuk cuci-setrika dan sapu-pel ini tinggal bersama ibunya (si mbah) yang juga berstatus janda-mati serta seorang putrinya yang masih batita di sepetak kamar kontrakan di gang Malela.

Ya Allah
Ngono yo ngono, nanging mbok yo ojo ngono to buuu.
Menanggung hidup seorang batita dan lansia di pinggir ibukota tanpa suami saja berat, kok yoo masih ditambah lagi bebannya dengan satu bayi lagi.

Saya hanya bisa mengelus dada.
Dan disinilah kami saat ini. Dengan perutnya yang semakin membuncit, ibunya Lisa tetap datang setiap hari kecuali hari Ahad selama bulan Ramadhan. Kadang terbersit keinginan untuk bertanya tentang perutnya yang kian membesar itu. Namun saya tidak tega, karena ibunya Lisa, ketika memperkenalkan dirinya sendiri di depan saya dan ibu mertua saya bulan Oktober lalu, menyatakan bahwa ia adalah janda karena cerai.

--

Ada tanggung jawab sepanjang hidup yang harus diemban ketika memutuskan untuk mendekati zinah.

Memang Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

sumber gambar:
https://gingerbeardmansite.wordpress.com/2016/02/08/if-nikah-and-walimah-cost-5000/


Reactions:

Tulisan lainnya:

0 comments