Kembali (ber)Sekolah

19 Juli


Alhamdulillah, anak-anak mulai memasuki awal tahun pelajaran baru.
Alhamdulillah pula, memasuki tahun kelima Damar (bila dihitung dari level PlayGroup) dan tahun kedelapan Yodha, mereka berdua sudah sangat nyaman bersekolah.


Jadi, apa yang berbeda tahun ini?
Di sekolah anak-anak, tahun ini mencanangkan gerakan zero waste, dengan menyarankan (bahasa halus dari memaksa) siswanya membawa peralatan makan, termasuk gelas sendiri untuk membeli makanan dan minuman di kantin. Karena mulai tahun ini, para pelapak di kantin sekolah tidak diijinkan menyediakan plastik wadah sekali pakai untuk produk mereka. Termasuk penjual jus! Tidak boleh ada gelas plastik sekali pakai (sedotan juga termasuk di dalamnya!).
Setiap hari jumat, khususnya kelas Damar, mereka diijinkan berbelanja di kantin dengan batas nominal tertentu. Setelah selesai bersantap, siswa akan dibimbing untuk membersihkan sendiri alat makannya, serta menyimpannya di kelas untuk digunakan kembali pekan berikutnya. Untuk siswa tingkat kelas Yodha, hal yang sama juga berlaku, bahwa bila mereka ingin jajan, maka harus menggunakan peralatan makan sendiri. Hari jajan untuk siswa kelas lima sudah dibebaskan dan tidak lagi diatur.

Terus terang saya (dan suami) justru sangat mendukung jenis kegiatan yang melatih kemandirian siswa, seperti misalnya ketrampilan mencuci piring sendiri. Untuk perubahan kurikulum, ekstra kurikuler dan lain sebagainya, bagi kami bukan merupakan hal yang utama. Lalu apa yang menjadi concern kami di tahun ini? Perubahan yang kami lakukan internal keluarga, adalah terkait dengan kecerdasan finansial, terutama untuk Damar.
Mendukung gerakan jajan di kantin, tahun ini, rencananya kami mulai akan memberlakukan uang saku pekanan untuk Damar. Sebelumnya, Damar belum mendapat amanah uang jajan. Biasanya ia jajan tiap 2 hari sekali, ketika saya jemput.

Protes?
Iya, karena merasa hak-nya jajan di kantin berkurang. :D

Akhirnya, setelah berdiskusi panjang dan lebar, terurailah benang merah apa yang jadi keinginan Damar. Makan enak! Jadi, selama ini saya memang terkesan pelit membawakan bekal (di mata Damar). Lauk seadanya saja, tidak menarik, dan itu-itu saja. Dia membandingkan dengan bekal kakaknya sewaktu dulu masih TK 😅

Bekal Yodha, 18 September 2012 
Yaampuuun, ternyata dokumentasi per-bento-an saya di blog pribadi saya jaman 6 tahun yang lalu di-kepo-in Damar!
Owalaah.. rupanya hanya karena ingin seperti ini, thow nak? 😬
Baiklah, ini merupakan #kodekeras bagi saya, emaknya, untuk mengikuti apa yang diminta Damar. Jujur, saat itu, saya masih belum memegang amanah di komunitas, sehingga masih banyak waktu luang untuk memasak, menggunting, memotong, dan menghias bekal sekolah. Dan lagi, karena saat itu Yodha masih TK, bekalnya pun masih sangat sederhana dan sifatnya hanya camilan, karena sesampainya di rumah, ia akan makan lagi :D
Hahahah,, alasan mah adaa aja ya.. Intinya adalah si emak sudah malas bebikinan 😝 Yang lainnya mah, kambing hitam aja.

Jadi, berdasar diskusi internal keluarga Prasasti malam Senin, maka diputuskanlah: bunda harus menyiapkan bekal bernutrisi yang menggugah selera.

Inilah hasilnya:
Nasi soto ayam suwir dan tempe goreng (yeay, bunda masak soto!)

Sup telur puyuh, rolade, kentang dan lele goreng
Bekal diatas masih banyak koreksi, terutama dari Damar untuk segi penampilannya. Hmm, sepertinya bunda mesti mengeluarkan lagi senjata per-bento-an yang sudah lama nangkring di dalam lemari 😅

Semangat ya nak! Tahun ajaran baru, kita sama-sama belajar. Damar belajar mengenal uang saku pekanan, Yodha belajar mengatur waktu untuk melakukan aktivitas sesuai prioritas, dan Bunda juga ikut belajar mengatur waktu untuk menyiapkan tantangan menu harian yang kian hari kian beragam inih!


Reactions:

Tulisan lainnya:

0 comments