Kompas Waktu

22 Juli


Flashback ke awal saya memulai proyek #kompaswaktu, saya ingin membuat satu tools atau semacam template agar para emak seperti saya bisa memaksimalkan fitrah bakatnya dengan “menyadari” kemana saja waktu berjalan. Apakah waktu tersebut digunakan untuk sesuatu yang berharga atau kah untuk sesuatu yang sia-sia? Karena setiap manusia, tidak peduli laki-laki atau perempuan, sehat atau sakit, tua maupun muda, kaya atau miskin, semua dianugerahi waktu yang sama, 24 jam. Tidak lebih dan tidak kurang.

Kesadaran tersebut merupakan satu hal penting untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya ikhtiar.

Setelah dengan sadar memanfaatkan detik yang telah dianugerahkan kepada tiap makhluk bernyawa, poin selanjutnya adalah membangun suatu sistem untuk mendukung produktivitas masing-masing individu.

Beberapa bulan lalu, saya menggunakan kertas, pulpen dan pensil warna untuk menyusun daftar tugas, habit tracker, todo list, dan bahkan jurnal syukur saya. Hal tersebut terus terang sangat membahagiakan saya karena saya tipe visual yang suka dengan warna, menyusun sesuatu hingga akhirnya menjadi bentuk baru yang fungsional dan juga sekaligus memiliki nilai estetika di atas rata-rata. Sayangnya, tidak banyak jurnal yang "sesuai" dengan apa yang saya butuhkan. Misalnya, saya ingin menyusun daftar tugas SEKARANG, di bulan Juli 2018. Rata-rata, buku agenda yang dijual di toko mulainya dari bulan Januari πŸ˜‘. Sayang banget kaan, kalau halaman awal hingga pertengahan buku kosong tak berisi. Belum lagi bila susunan di dalam buku agenda tersebut tidak saya butuhkan, entah kolomnya terlalu kecil, ruang yang tersedia tidak cukup untuk menampung daftar tugas harian saya, ataupun tidak ada ruang untuk tugas bersih-bersih rumah pekanan. Jadilah saya membutuhkan usaha ekstra untuk menyesuaikan kebutuhan saya dengan menambah beberapa bagian disana dan disini, serta mengurangi bagian lain yang tidak saya butuhkan. Hmm, bukankah buku agenda fungsinya untuk memudahkan ya?

Dan bagian yang menyedihkan adalah saat saya terlupa membawa agenda saya ketika mudik bulan lalu πŸ˜“Daftar tugas yang telah saya susun ketika mudik hingga daftar ide untuk tulisan di blog ini... semua tidak terbawa. Agenda keren saya tegeletak manis di rak buku, tak tersentuh selama kurang lebih 10 hari. Saat itulah saya menyadari - saya suka buku agenda, spidol warna dan kertas todo list saya, tetapi.. Realitasnya, lebih kecil kemungkinan saya lupa membawa ponsel daripada saya melupakan buku agenda saya. Dan setelah pulang mudik beberapa waktu lalu, saya masih memerlukan usaha ekstra untuk mencari-cari waktu luang untuk mengisinya di sela kewajiban saya membersihkan rumah. Mau tidak mau, ada beberapa ide hilang. Bahkan beberapa kewajiban terlewat saya kerjakan πŸ˜”


PRO dan KONTRA

Kenyataan kecilnya kemungkinan saya lupa membawa ponsel tersebut membuat saya mulai beralih ke digital time tracker. Saya masih menyimpan jurnal saya sih, tapi dengan menambahkan aspek digital dalam kegiatan saya menyusun daftar tugas, rupanya membantu saya lebih terorganisir.

Yang saya suka dari buku agenda dan spidol adalah hasilnya yang penuh warna. Saya rela membeli spidol warna yang biasa diletakkan di meja kasir di toko buku Sederhana hanya karena suka dengan warnanya (ngaku) 😁, saya juga rela menghabiskan waktu mencari ide gambar untuk isi jurnal saya. Saya bahkan juga suka menambahkannya dengan selotape motif di sepanjang tepi halaman untuk memisahkan bagian per bagian.

Berikut aplikasi yang saya pilih untuk membantu mengorganisir hidup saya:
1. (memaksimalkan) Google Kalender
2. Todoist
3. Evernote
4. Toggl
5. IFTTT
6. Yawme

InsyaAllah di tulisan lain akan saya coba kupas tutorial dan peruntukan nya.

#kompaswaktu


Reactions:

Tulisan lainnya:

0 comments