Pemberian Yang Indah

26 Juli


"Yoodhaa"
"Yoodhaa"
Sore sehabis ashar, samar samar terdengar suara beberapa anak memanggil nama Yodha. Tumben, pikir saya dalam hati. Yodha yang baru saja menginjakkan kaki di rumah dari masjid sepulang sekolah, tampak sumringah (berbinar) mendengar namanya dipanggil.
"Siapa, mas?" tanya saya.
"Kenzie sama Rizqi bun. Mereka tadi pulang sekolah janjian ngajakin sepedaan."
"Mau kemana, mas?"
"Cuma sepedaan aja bun, keliling-keliling puter kompleks" sahut Yodha mulai bersemangat.
"Boleh ya buun?" lanjutnya bertanya sambil menangkupkan kedua tangannya persis di bawah dagunya, setengah memohon.
"Ya, boleh lah mas" jawab saya setengah terkikik.
"Asyiiik" teriak Yodha sambil memeluk saya dan melompat-lompat memutari saya.
"Ganti baju dulu ya mas" pinta saya sambil menahan tawa.
"Oh iya ya" jawabnya sambil bergegas melompat menuju kamar, mengganti baju seragamnya menjadi kaos oblong hijau dan celana selutut favoritnya.

---

Ah, tidak terasa, ternyata sudah hampir 10 tahun kamu hadir di tengah kehidupan kami (saya dan suami saya). Sepanjang waktu itu, rasanya lebih banyak suka yang kau hadirkan di tengah kami, nak.

---

Sejak 2 hari lalu, badan saya demam dan menggigil kedinginan tiap kali selesai wudhu. Setelah beberapa hari lalu (Sabtu) Yodha demam dan Damar menyusul (Senin), saya pun ikut tertular. 2 hari tersebut saya gunakan untuk beristirahat penuh. Tidur dengan berselimut tebal, tidak peduli matahari sedang terik-teriknya. Sayapun mengistirahatkan ponsel pintar saya. Tak sanggup rasanya membaca satu persatu pesan, terutama pesan whatsapp grup di berbagai grup yang saya ikuti.

Pukul 17.15 WIB telah terlewati. Saya mulai bertanya-tanya, kapan anak saya pulang? Antara gelisah, sambil menahan gemuruh di kepala, saya pun menunggu kedatangan Yodha dari acara bermain sepedanya. Saya mulai mengambil ponsel pintar saya serta perlahan memanjat dan menyisir pesan yang masuk, baik via japri maupun pesan di whatsapp group. Ada satu pesan yang menarik hati saya. kurang lebih begini tulisannya:


Walau itu terasa tidak mudah di tengah menjalani promil yang harus saya lalui bolak balik Lampung - Jogja,  kelas bundsay3 dengan T10 nya,  tugas bundsay leader, tugas fasil, juga pengurus regional, tapi semangat teman2 disini memompa saya untuk terus bergerak maju.😁

Walau nanti karya belum jadi 100%  karena mulai fokus promil, tapi sudah punya logo, juga brand.

Entah mengapa, saya terpaku lama di pesan yang dikirimkan oleh salah satu peserta RBI (Ruang Berkarya Ibu) ini. Sekelebat saya seolah bertransformasi masuk menjadi dirinya. Perempuan yang mendamba kehadiran bayi (seorang saja) setelah tahun kesekian pernikahan. Perjuangannya, serta ditambah lagi mungkin banyaknya pertanyaan-pertanyaan basa-basi yang terlontar tak disengaja dari rekanan yang kadang bila sedang tidak mood, bisa membuat telinga panas dan hati bagai tercubit. Belum lagi lelahnya berikhtiar serta mungkin perasaan menyalahkan diri sendiri berhari-hari.


Sebenarnya, serumit apakah proses bersatunya sperma dan sel ovum? Kenapa sebagian pasangan dikaruniai keturunan dengan mudahnya, sementara yang lain tidak? Bahkan ada pula yang tidak melewati lembaga pernikahan negara, seperti misalnya kisah yang pernah saya tulis disini.

Di tengah proses lamunan saya, saya kembali diingatkan pada ayat 82 Surat Ya-Siin



Dan tidakkah manusia memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setetes mani (QS 36 : 77)

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَن يَقُولَ لَهُ كُن فَيَكُونُ - 36:82
Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu.

--
Ayat diatas mengingatkan saya bahwa sedari awal, Allah lah yang berperan diawal penciptaan manusia. Terciptanya bayi, bukan hanya tentang bertemunya sperma dengan sel telur.

Kami -sebagai orangtua- tidak sepantasnya jumawa bahwa kami memiliki keturunan. Karena kedua anak kami, Yodha dan Damar, adalah "dzurriyyatan", anugerah indah yang diberikan dan dititipkan kepada kami, yang bahkan kami sendiri tidak mampu menciptakannya.

Sebagai orangtua, kami hanya kebagian tugas untuk membimbing mereka mengenal Rabb kami.
Bismillah.

“Your children are not your children.⠀
They are the sons and daughters of Life's longing for itself.⠀
They come through you but not from you,
And though they are with you yet they belong not to you.”⠀

Kahlil Gibran wrote those words in his epic book, The Prophet.⠀

I always agreed.

#harianaknasional
#kamimenulis
#tulisankuhariini


Reactions:

Tulisan lainnya:

0 comments