Catatan Emak: Sebuah Apresiasi

23 September




Jujur, ini kali pertama saya memaksakan diri untuk kembali menulis setelah "bertapa tanpa menulis tentang saya"
Iya, beberapa waktu lalu (dan hingga kini), saya merasa lelah untuk menulis tentang saya. Saya, saya. Saya dan keluarga saya. Semua tentang saya.

I want to do something different.

Lalu apa yang saya lakukan selama hiatus menulis jurnal?
(((Ternyata tidak jauh dari kegiatan tulis-menulis 😝)))

Beberapa minggu sebelum hari ini, persisnya awal Agustus 2018, saya sangat ingin membuat sebuah karya.

Keinginan saya terpantik dari selembar kertas HVS yang saya terima siang itu dari Damar. Bukan kado yang mewah -wong berupa lembaran kertas bekas- dan bisa dikatakan jauuh dari sempurna.

Hanya secarik kertas bertuliskan tangan: I πŸ’–Bunda. Sederhana, akan tetapi, apresiasinya-lah yang menyentuh hati saya. Semacam rasa bahagia yang durasinya sangat panjang, dan hingga kini pun masih terasa...

"masyaAllah,, ternyata Damar mengingat saya πŸ’Œ"

---

Terimakasih untuk teknologi modern.. saat ini kita sudah terbiasa hidup dalam budaya "on-demand" atau "berdasarkan permintaan". Bila kita ingin mendengarkan lagu atau video kajian tertentu, teknologi sudah begitu maju hingga kita bisa mendapatkannya on-demand - persis berdasarkan permintaan. Ingin pesan makanan, buku, pakaian, aksesoris, dan bahkan mobil (kalau yang terakhir ini, saya belum pernah), kita bisa mendapatkan dengan beberapa simpel klik online. Kita bisa mendapatkan barang yang kita inginkan ketika kita ingin (sebagian besar). Kemajuan teknologi yang luar biasa, terasa sangat dekat dengan keseharian kita.

Lalu bagaimana dengan human relationship? Apa kabarnya hubungan antar manusia? Sepertinya teknologi yang canggih masih belum bisa (atau bisa dikatakan tidak bisa) menerjemahkan hubungan antar manusia dengan baik. Teknologi dan human relationship, adalah dua hal yang saling berseberangan dan berbeda jauh. Manusia bukanlah mesin. Kita tidak bisa serta merta meminta orang lain untuk bertindak mengikuti keinginan kita seperti halnya kita meminta Google menjawab berapa jumlah satu tambah satu. Manusia memiliki pemikiran dan juga perasaan yang menjadi dasar untuk membuat keputusan.

Intens-nya interaksi (saya) dengan teknologi (gadget) membuat saya lebih banyak lupa, bahwa manusia tidak sama dengan gadget. Ketika saya menitipkan permintaan saya kepada orang lain, dan hasilnya tidak sesuai dengan harapan saya, yang terbersit adalah ketidakbahagiaan dan rasa kecewa.

Hubungan antar manusia, bukanlah sejenis hubungan antara manusia dengan mesin: take and give. Manusia memberi instruksi / perawatan  (give) pada mesin, sehingga manusia bisa mengambil manfaat (take).

Hubungan antar manusia, bukan take and give rupanya.
Seperti yang ditulis oleh bu Septi: hidup manusia adalah give dan given.
---

hihihi panjang ya pendahuluannya..

Intinya, berawal dari sepucuk surat dari Damar, saya seolah dicolek ulang, bahwa muda atau tua, laki-laki atau perempuan, setiap manusia memiliki kebutuhan dasar untuk merasa dicintai. Manusia membutuhkan afection dan kemelekatan.


Bahasa cinta suami, alhamdulillah saya sudah paham. Kedua anak saya pun, insyaAllah saya juga saat ini masih bisa menyelaraskan kebutuhan mereka dengan kemampuan saya.
Selesai dengan keluarga kecil saya, tiba saatnya berlanjut ke lingkaran yang lebih besar. 

Bila menilik interaksi saya yang paling banyak, selain dengan suami dan anak-anak, adalah komunitas IP Depok.

"Apa yang bisa saya berikan?"
Pertanyaan itu yang terus saya tanyakan beberapa minggu terakhir.

Amanah saya di IP Depok ada dua. Satu adalah sebagai fasilitator Bunda Sayang, dan sebagai Manajer Online. Sebagai fasilitator, saya berusaha meluangkan waktu untuk "mengirim" jejak di setiap tugas peserta, persis seperti yang telah saya lakukan sejak level 1. Alhamdulillah.

Bagaimana dengan amanah yang satunyaa?

apa yang bisa berikan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia untuk merasa dicintai?"
Apresiasi macam apa yang bisa saya berikan untuk member?



Pertanyaan tersebut membuat saya mengingat tulisan bulan Januari lalu: Orang-orang di sekitar saya, orang-orang yang berinteraksi dengan saya, dan utamanya orang-orang yang saya sayangi, pada akhirnya hanya akan mengingat how i made them feel.

Saya pun memutuskan untuk memulai proyek "Catatan Emak". Sebuah majalah digital yang berisi kumpulan chat member IP Depok setiap hari Rabu. Di whatsapp grup IP Depok, sudah hampir 6 bulan terakhir ini divisi online menggelar acara "Rabu Seru" dimana setiap hari Rabu, ada tema tertentu yang akan dibahas serentak di keempat WAG. Tema tersebut berkisar keseharian emak-emak. Mulai dari dapur, anak, hingga acara yang sedang berlangsung saat itu, seperti Asian Games.

So, in which way can i appreciate others?

Dengan meminta ijin satu persatu pemilik tulisan (yap, it means every single chat !) yang dikutip di Catatan Emak.

😍

Daan, alhamdulillah,, inilah Catatan Emak Ibu Profesional Depok, salah satu bentuk apresiasi saya. Salut untuk para emak IPers Depok!

Dari, oleh, dan untuk Ibu Profesional Depok


Alhamdulillah


Sumber Gambar:
https://www.jordanharbinger.com/how-to-make-people-remember-you/
http://cerita.maharku.com/2018/01/apresiasi-dan-kekuatan-dorongan.html


Reactions:

Tulisan lainnya:

0 comments