Merencanakan Kesusahan??

16 November


Sabtu pagi pekan lalu, saya berkesempatan untuk menghadiri semacam seminar yang dihelat KPM (Klinik Pendidikan MIPA), tempat Yodha menimba ilmu selama kurang lebih 2 tahun terakhir. Setengahnya adalah terpaksa karena pak Ridwan mewajibkan semua wali murid kelas khusus untuk mengikuti pelatihan.

Seperti biasa, bukan KPM kalau metode pembayarannya berbayar. Kami tidak dibebani dengan biaya apapun, bahkan untuk konsumsi. Seikhlasnya saja. Dan tanpa paksaan. Acaranya sendiri lebih banyak  berbentuk ceramah dari pak Ridwan.

Jadi, apa yang spesial ya?

Yang spesial adalah isi ceramahnya... Semula saya pikir, karena pak Ridwan yang memiliki basic seorang guru matematika, tentunya akan banyak melandaskan hampir semua hal menggunakan logika. Saya salah. Sedari awal Yodha mengikuti kelas khusus tanpa tarif hingga pelatihan tanpa biaya, rupanya pak Ridwan sudah tidak menggunakan akal dalam tiap keputusannya. Beliau banyak menggunakan hatinya.

3 Jenis Antena Manusia

Manusia, mengutip isi ceramah pak Ridwan, memiliki 3 macam antena. Pertama adalah fisik yang menggunakan panca indera. Kedua adalah akal yang berlandaskan logika dan cara berpikir rasional. Yang terakhir adalah antena hati, menggunakan hal gaib yang tidak terindera oleh panca indera manusia. Antena hati, ada yang supranatural -yang berasal dari roh jahat, iblis dan atau setan, dan ada pula suprarasional, yang berasal dari Yang Maha Memberi.

Antena fisik, merupakan antena level paling rendah. Bila dikonversikan, disebut kuadran X. Antena fisik ini tidak menggunakan akal, dan tidak menggunakan hati, karena menggunakan kelima panca indera saja. Biasanya, permasalahan yang bisa diselesaikan adalah persoalan dasar sandang pangan saja tanpa melibatkan akal, misalnya untuk menyapu lantai yang kotor, olahraga renang/lari.

Akal, merupakan antena yang, bila dikonversikan, disebut kuadran Y. Antena ini membutuhkan kekuatan pikiran untuk memecahkan masalah. Misalnya, arsitek yang merancang sebuah bangunan tempat tinggal.

Terakhir, adalah antena hati, yang disebut kuadran Z. Antena ini mengatasi masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan menggunakan kekuatan fisik maupun akal.

Ketiga antena tersebut, merupakan "wadah" tiap manusia dalam menampung rezeki Allah. Sebagai contoh, fisik yang masih sehat (X) ditambah penggunaan akal untuk mencari solusi (Y) disertai hati yang selalu berdzikir (Z), akan membentuk wadah yang lebih besar untuk menampung rezeki. Bandingkan dengan manusia yang hanya menggunakan akal saja (Y) tanpa disertai fisik sehat ataupun hati yang terpaut pada Allah. Bisa dipastikan bentuk wadahnya hanya berupa garis datar saja. Kecipratan rezeki, namun tidak sanggup menampungnya, sehingga bisa dipastikan, tidak memiliki cadangan rezeki yang berlimpah.



Hati, akses cepat menuju Allah SWT




Memaksimalkan antena hati, adalah dengan menjadikan Tuhan Yang Maha Kuasa sebagai "majikan" kita. Untuk menjadikan Allah sebagai Raja, manusia harus terlebih dahulu menghidupkan "hati". Dzikir lisan dan hati, perasaan selalu bersyukur, selalu mendahulukan Yang Maha Kuasa, menghayati asmaul husna dan membiasakan berbuat baik adalah tips dari pak Ridwan untuk mengakses "hati".

Dari pemaparan pak Ridwan tentang "hati", bagi saya terkesan memiliki 2 landasan, yaitu hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa, dan hubungan dengan sesama manusia. Kode umum, adalah istilah yang digunakan pak Ridwan untuk akses menuju hubungan dengan Yang Maha Kuasa. Contohnya adalah sholat, baca Alquran, puasa. Ketika aktivitas kode umum tersebut dijalankan, maka akan kembali kepada kita dalam bentuk yang tidak terduga, seperti misalnya anak sholeh, doa yang terkabul, atau keselamatan dalam berkendara.

Berbeda dengan kode khusus, yaitu istilah yang digunakan untuk akses menuju hubungan dengan sesama manusia dan atau dengan makhluk hidup lainnya. Contohnya misalnya adalah memberi makanan, menyantuni anak yatim, mengajar. Kode khusus ini, bila dilakukan, maka akan kembali ke penjalan aktivitas dalam bentuk yang SAMA! Percaya?
Orang yang berbagi ilmu, akan mudah mendapatkan ilmu.
Orang yang berbagi makanan, akan menerima makanan (dalam bentuk yang beragam)
Orang yang memudahkan persalinan orang lain (misalnya menyantuni biaya persalinan), insyaAllah akan dimudahkan ketika bersalin.
Orang yang memberikan beasiswa belajar, insyaAllah (ia dan atau anggota keluarganya) akan dimudahkan ketika menimba ilmu.


Reactions:

Tulisan lainnya:

0 comments