Darurat Kesehatan Mental!

17 Desember


Setelah menyandang status IBU, menjaga "kewarasan" alias kesehatan mental, kadang menjadi urutan kesekian dari daftar prioritas IBU setelah kebutuhan anak, suami, pekerjaan dan juga rumah.

Padahal, menurut Direktorat Promosi Kesehatan, penyakit mental dapat menyebabkan masalah dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya dapat merusak interaksi atau hubungan dengan orang lain, namun juga dapat menurunkan prestasi di sekolah dan produktivitas kerja.

Seseorang yang bermental sehat dapat menggunakan kemampuan atau potensi dirinya secara maksimal dalam menghadapi tantangan hidup, serta menjalin hubungan positif dengan orang lain. Sebaliknya, orang yang kesehatan mentalnya terganggu akan mengalami gangguan suasana hati, kemampuan berpikir, serta kendali emosi yang pada akhirnya bisa mengarah pada perilaku buruk. -Direktorat Promosi Kesehatan-

Waduh, sepertinya serius yah...
Sejujurnya, iya, sangat serius. Rasanya tidak perlu lah ya, menuliskan satu persatu kasus perilaku kurang baik hanya karena ketidakmampuan seseorang dalam mengenali dirinya sendiri.

Bagaimana dengan kita, para wanita yang telah menyandang gelar "IBU"? Sehatkah mental kita? Seberapa positif aura yang kita getarkan ke anak-anak dan suami kita?

Sudahkah kita mengenali potensi diri dan menggunakannya semaksimal mungkin?

---

Alhamdulillah, pekan lalu kelas Bunda Cekatan dimulai. Dan alhamdulillah, seolah menjawab pertanyaan-pertanyaan khas perempuan yang selalu galau dalam mencari jati diri, tantangan kelas Bunda Cekatan yang pertama adalah MELACAK KEKUATAN.

---

Lalu, apa hubungannya judul posting kali ini dengan tantangan Bunda Cekatan?  Well, secara garis besar, sehat secara mental, bisa dikatakan tercapai ketika seseorang:
- mampu merealisasikan potensi dirinya
- mampu mengatasi tantangan (skala normal) dalam kehidupan
- mampu bekerja secara produktif dan bermanfaat
- mampu memberi kontribusi pada lingkungan sekitarnya

Jadi nyambung lah yaa,, karena darurat kesehatan mental, salah satu solusi pertamanya adalah melacak kekuatan.

So, count me in!
Mulai main yuk!

Pertama, isi 4 kelompok kuadran kegiatan sehari-hari, yaitu kegiatan yang :
Bisa dilakukan namun tidak disukai
Bisa dilakukan dan disukai
Tidak bisa dilakukan tetapi disukai
Tidak bisa dilakukan dan tidak disukai

Lalu, yang kedua, setelah mengisi kuadran kegiatan sehari-hari, fokuslah ke kuadran aktivitas BISA dan SUKA. Pilih maksimal 5 aktivitas. Jadikan 5 hal tersebut pijakan kekuatan.

---

Sekarang giliranku yah..
Pertama:
Bisa dilakukan namun tidak disukai: berbicara di depan publik, bicara basa-basi, beres-beres.
Bisa dilakukan dan disukai: desain, travelling, hasta karya, belajar, mengolah data, menganalisa, menulis
Tidak bisa dilakukan tetapi disukai: hand-lettering, melukis, melayani orang
Tidak bisa dilakukan dan tidak disukai: make-up, melobi / nawar.


Kedua:
Dari kuadaran bisa dilakukan dan disukai, aku pilih aktivitas:
- mendesain,
- travelling,
- hasta karya
- mengolah data

---

Bagaimana dengan kamu? Sudah mulai melacak kekuatan demi mencapai kesehatan mental paripurna? he3x
Bagi teman-teman yang galau dengan diri sendiri, semoga tulisan ini bisa membantu yah.


#janganlupabahagia
#jurnalminggu1
#materi1
#kelastelurtelur
#bundacekatan1
#institutibuprofesional



Daftar Bacaan
http://promkes.kemkes.go.id/pengertian-kesehatan-mental diakses tanggal 16 Desember 2019


Reactions:

Tulisan lainnya:

0 comments