Rumah Hexa

29 September


Semua yang telah terjadi pasti punya hikmah di dalamnya. Begitupun episode kali ini. Meski begitu, kepingan puzzle tersebut masih belum mampu saya susun.

Pandemi yang mampir menyapa awal Agustus 2020, telah meruntuhkan semangat juang saya. Hal yang saya sadari, bahwa raga dan jiwa ini bukan milik saya. Sedikitpun saya tak punya kuasa atasnya, tanpa ijin pemilikNya. Kalau boleh menuding, detik ini, detik lalu, dan esok, saya pasti akan tetap menyalahkan diri saya sendiri karena telah mengijinkan "inside me" luluh lantak.

Saya memilih untuk menepi. Bersembunyi dalam spatium dan sibuk membangun tembok maya, menjauh dari keriuhan huruf. Spatium favorit saya adalah taman belakang berdinding sirih, tempat saya menyelam hampir tiap pagi. Spatium favorit kedua saya adalah layar 6" yang menemani dan membelai "inside me" di saat saya melakukan pekerjaan rumah.

Saya belum mampu melakukan perencanaan seperti sedia kala. Produktivitas merupakan istilah yang perlahan menghilang bagai buih terseret ombak saat saya tenggelam bersama taman berdinding sirih.

Kini, rumah impian saya hanya memiliki 3 ruang. Laut berdinding sirih tempat melepas penat, ruangan selebar 6" yang menemani saya menyelesaikan amanah, serta dimensi 21.5" yang sabar menuntun saya mencari jawaban.


Wake me up when september end -Greenday

Wake me up, Let's wake up

Lepas sedih, rasa gagal, kemalasan untuk kembali genjot semangat untuk menyelesaikan last quater 2020.

Mari menari di banyak tikungan agar tidak mudah jatuh terpuruk di tengah banyak tantangan dan rintangan. 

Wake me up when september end, sudah, segera selesaikan kegalauan, Tunjukkan karya walau hanya tulisan dari apa yang bisa. Kerjakan yang masih tersisa sampai finish.

Kabulkanlah Ya Rabb 

Sumber foto:

https://cdn.pixabay.com/photo/2020/01/16/10/13/mountain-and-sea-4770131_1280.jpg


Reactions:

Tulisan lainnya:

0 comments